Cerita WNI Jateng Tergiur Gaji Tinggi Kerja di Kamboja, Berangkat Tanpa Jasa PJTKI

Merdeka.com - Merdeka.com - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah menyatakan 10 WNI di wilayahnya yang terlibat penipuan saat bekerja di Sihanoukville, Kamboja dipastikan ilegal. Sebab, mereka itu berangkat ke Kamboja tanpa melalui jasa PJTKI resmi melainkan melalui jalur private to private atau perorangan.

"Kita dapat infonya kalau mereka tertarik kerja di Kamboja karena tergiur dengan lowongan kerja yang terpampang di Facebook. Kemudian setelah lihat ada tawaran gaji 1.000 dollar Amerika, mereka memutuskan berangkat. Proses pemberangkatannya perorangan, dan tiketnya ditanggung pihak perusahaan, tapi sampai di sana, mulai kerja, mereka merasa ditipu. Karena gajinya jauh di bawah standar yang ditawarkan," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, Sabtu (30/7).

Selama bekerja di Kamboja, 10 WNI tersebut bekerja melebihi batas aturan jam kerja dan tanpa keahlian khusus. Rata-rata kerjanya di bagian administrasi, tenaga komputer dan cleaning service.

"Untuk jam kerjanya dari penyelidikan sementara termasuk over time atau melebihi waktu yang ditentukan. Ketika dikroscek ke Kedubes RI di Kamboja ternyata kasus penipuan di sektor tenaga kerja di sana belakangan sangat marak. Kasusnya cukup masif dengan jumlah korban yang terus bertambah," ungkapnya.

Pihaknya menduga WNI asal Jateng yang menjadi korban penipuan di Kamboja bekerja menggunakan visa wisata. Menurutnya tindakan ini sudah menyalahi aturan UU Ketenagakerjaan karena visa yang dipakai berkerja seharusnya visa kerja dengan masa berlaku yang terbatas.

"Dugaannya mereka pakai visa wisata di Kamboja. Kalau ditotal keseluruhannya ada 54 WNI yang bekerja di Kamboja yang diduga mengalami penipuan menjadi korban tindakan perdagangan orang (TPPO). 10 dari Jateng, sisanya dari Jabar, Medan, NTB dan daerah lainnya," jelasnya.

Saat ini, kondisi kesepuluh WNI tersebut masih sehat dan tinggal di sebuah asmara milik perusahaan investasi di Kamboja. Disnakertrans Jateng sudah berkoordinasi dengan pihak Kemenlu untuk menyelesaikan kasus ini.

"Kita sudah bekerjasama dengan Kemenlu, lalu tim Bareskrim Polri sudah bergerak ke Kamboja untuk menyelidiki kasus ini. Kesepuluh WNI yang jadi korban penipuan kondisinya masih sehat, mereka masih bekerja di perusahaan investasi dan tinggal di asrama," pungkasnya. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel