CGS-CIMB Targetkan Buka 10 Ribu Rekening Saham Baru di 2020

Liputan6.com, Jakarta - PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia meluncurkan platfom digital penjualan saham atau CGS-CIMB iTrade, melalui aplikasi ini ditargetkan dapat membuka rekening 10 ribu saham baru.

Director of Retail Equity CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Sugiharto Widjaja mengatakan, CGS-CIMB iTrade telah resmi diluncurkan sebagai online trading platform, dengan begitu dapat memenuhi kebutuhan investor ritel dalam berinvestasi di pasar modal.

"Kami juga memahami bahwa kebutuhan investasi para investor ritel kami telah berkembang lebih dari sekadar memiliki dan menggunakan online trading platform dalam bertransaksi saham," kata Sugiharto, di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Dengan online trading platform yang baru, CGS-CIMB menentukan target untuk mendapatkan 10 ribu pembukaan rekening saham baru pada 2020, untuk terus memperkokoh posisi CGS-CIMB Sekuritas Indonesia di antara investor ritel.

"Paada tahun ini, kami akan berkomitmen untuk mengembangkan modul kelas pendidikan pasar modal gratis untuk mengedukasi dan terus tumbuh bersama investor ritel kami," tuturnya.

Dalam CGS-CIMB iTrade yang baru, tersedia dalam versi situs dan aplikasi seluler di iOS maupun android, dengan fitur baru seperti:

- Historical Chart: Menampilkan informasi pergerakan harga saham dalam bentuk grafik dengan kurun waktu kurang lebih 7 tahun terakhir.

- Heatmap Feature: Nasabah dapat melihat kondisi pasar secara keseluruhan, dimana saham – saham yang ditampilkan dapat dikelompokkan berdasarkan sektor.

- Stock Screener: Nasabah dapat melakukan pengelompokkan saham-saham di pasar berdasarkan indikator teknikal dan fundamental.

BEI Setop Sementara Perdagangan Efek 5 Emiten

Sepanjang perdagangan hari ini (30/5), IHSG bergerak pada kisaran 5.693,39 - 5.730,06, Jakarta, Selasa (30/5). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator pasar modal di Indonesia, memutuskan penghentian sementara perdagangan efek lima emiten.

Lima perusahaan tercatat tersebut adalah PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT SMR Utama Tbk (SMRU), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM dan TRAM-W) di mana perdagangan efek ketiganya aktif sebelum suspensi.

Sementara itu, dua emiten lainnya yaitu PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) yang disuspensi di seluruh pasar sejak Mei 2019 dan PT Hanson Internasional Tbk (MYRX dan MRX-P) yang disuspensi di seluruh pasar sejak 16 Januari 2020.

Sekretaris Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono mengatakan, penghentian sementara tersebut dilakukan dalam rangka menjaga perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien. 

Penghentian sementara tersebut merujuk pada surat yang dikeluarkan OJK No. SR-11/PM.21/2020 tanggal 22 Januari 2020 perihal Perintah Penghentian Sementara Perdagangan Efek.

"Penghentian dilakukan pada seluruh pasar sejak sesi I Perdagangan Efek hari Kamis, 23 Januari 2020 hingga pengumuman bursa lebih lanjut," ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (23/1/2020).

Pembukaan suspensi atas efek-efek di atas, hanya dapat dipertimbangkan apabila perusahaan tercatat telah memenuhi kewajiban kepada BEI dan pihak OJK telah memerintahkan pembukaan suspensi atas efek-efek dimaksud. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: