Chauvinisme adalah Suatu Paham atau Ajaran, Ketahui Dampak Positif dan Negatif

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Chauvinisme adalah sebuah bentuk dari perasaan cinta, bangga, loyalitas yang tinggi, fanatisme atau kesetiaan pada suatu Tanah Air atau negara tanpa mempertimbangkan pandangan dari orang lain tentang suatu bangsa lain.

Bisa dikatakan juga, chauvinisme adalah sebuah ajaran dan paham tentang fanatisme seseorang terhadap Tanah Air yang berlebihan. Sehingga merendahkan kualitas negara lain atau menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang tidak bagus di mana paham seperti ini cenderung menimbulkan lebih banyak kontra yang kontroversial dan pandangan buruk dari bangsa lain terhadap bangsanya sendiri.

Meski bisa memberi dampak positif, beberapa dampak negatif dari chauvinisme adalah konflik yang bisa saja timbul akibat tidak dapat menerima perbedaan pendapat dan selalu merasa lebih baik dari bangsa lain.

Mungkin chauvinisme adalah istilah yang masih cukup asing bagi Anda. Berikut ini Liputan6.com melansir dari Fimela.com dan sumber lainnya mengenai seluk-beluk dari chauvinisme tersebut, Senin (28/12/2020).

Apa Itu Chauvinisme?

Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Burst
Ilustrasi Membaca Buku Credit: pexels.com/Burst

Mengutip Macmillan (2015), chauvinisme adalah kepercayaan pada superioritas atau dominasi kelompok atau orang sendiri yang dipandang kuat dan berbudi luhur. Sementara yang lain dianggap lemah atau tidak berharga.

Kemudian, jika merujuk pernyataan ahli teori politik Hannah Arendt (1945), konsep chauvinisme adalah produk yang bentuknya hampir sama dari konsep nasional, sejauh ia bersumber langsung dari gagasan lama tentang "misi nasional".

Istilah chauvinisme sendiri, apabila merujuk pada sejarah sebenarnya mulai muncul sekitar tahun 1960. Awalnya, chauvinisme dikenal sebagai bentuk dari pandangan agresif pria terhadap wanita. Chauvinisme dicetuskan oleh tokoh bernama Nicolas Chauvin. Dirinya merupakan seorang tentara setia dari Napoleon Bonaparte. Bahkan, meski Napoleon kalah kala itu, Chauvin masih tetap setia kepadanya.

itulah mengapa, istilah tersebut akhirnya muncul dengan sebutan mirip nama Chauvin. Jika melihat lebih jauh lagi, sebenarnya pengertian Chauvinisme ada berbagai macam menurut para ahli.

Seperti chauvinisme menurut St. Times. Menurutnya, chauvinisme adalah rasa cinta tanah air secara berlebihan dengan mengagung-agungkan bangsa sendiri sehingga merendahkan bangsa lain. Begitu juga menurut Inovania, chauvinisme adalah sebuah istilah yang dipergunakan merujuk pada sebuah kesetiaan yang ekstrem terhadap sesuatu tanpa mempertimbangkan alternatif lain.

Ciri dari Sikap Chauvinisme

Ilustrasi Demonstrasi Melawan Rasisme Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Demonstrasi Melawan Rasisme Credit: pexels.com/pixabay

Tidak hanya sampai pada konsep dari chauvinisme itu sendiri, ada baiknya untuk memahami juga gambaran mengenai ciri dari sikap chauvinisme tersebut. Berikut ciri dari sikap chauvinisme:

1. Sikap Fanatik Terhadap Bangsa dan Negaranya dengan Berlebihan

Salah satu ciri sikap chauvinisme adalah menunjukkan sikap fanatik yang berlebihan terhadap bangsa serta negaranya. Pasalnya, seseorang yang menganut konsep chauvinisme sangat percaya jika ras dan bangsanya adalah yang terbaik dari yang terbaik. Maka tidak heran jika penganut konsep chauvinisme membuatnya merasa superior dan berhak atas orang lain.

2. Memandang Rendah dan Menindas Ras serta Bangsa Lain

Kemudian ciri kedua dari sikap chauvinisme adalah memandang ras dan bangsa lain lebih rendah darinya. Bahkan tidak ragu-ragu untuk melakukan sebuah penindasan. Hal tersebut yang pada akhirnya jadi latar belakang seseorang melakukan tindakan rasis pada orang lain hanya karena menganggap dirinya lebih baik dan berhak atas mereka yang memiliki perbedaan seperti, warna kulit, mata dan lain sebagainya.

3. Punya Pemimpin Revolusionis dan Dikktatoris

Selanjutnya, ciri yang ketiga dari penganut chauvinisme adalah dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki kecenderungan revolusionis dan diktatoris. Revolusionis yang dimaksud adalah memimpin dengan kekerasan. Sedangkan diktator maksudnya tidak memimpin secara demokratis dan pemimpin tersebut punya kekuasaan sangat mutlak serta tidak bisa diganggu gugat oleh siapa saja.

Dampak Positif Sikap Chauvinisme

Ilustrasi Perwujudan Sikap Chauvinisme Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Perwujudan Sikap Chauvinisme Credit: pexels.com/pixabay

Meski merupakan salah satu konsep yang sudah sangat lama ada, serta erat kaitannya dengan pandangan hidup suatu negar. Chauvinisme adalah salah satu konsep yang punya dampak positif bagi kehidupan.

Tapi memang, tidak terlalu banyak dampak positif dari konsep chauvinisme tersebut. Adapun dampak positif chauvinisme adalah mampu mempersatukan warga negara menjadi satu kesatuan yang tunduk akan pemerintahan.

Umumnya, ketika menganut konsep ini, bangsa atau suatu negara bisa terhindar dari konflik internal. Pasalnya, hampir semua warga negaranya tunduk serta memberi kepercayaan yang sangat besar pada pemerintah.

Dampak Negatif Sikap Chauvinisme

Ilustrasi Perlawanan Terhadap Tindakan Rasisme Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Perlawanan Terhadap Tindakan Rasisme Credit: pexels.com/pixabay

Selain dampak positif yang bisa didapatkan, ada beberapa dampak negatif dari konsep chauvinisme adalah sebagai berikut:

- Berpotensi merusak perdamaian dunia.

- Jadi alasan seorang pemimpin punya keyakinan besar untuk menyerang bangsa lain demi kekuaasaan.

- Menjadikan seseorang tidak bisa berpikir hal-hal baik tentang bangsa lain.

- Pemicu pertentangan dan peperangan antar bangsa dan negara.

- Menjadikan jiwa seseorang lebih tertutup dan sulit bersosialisasi.

- Jadi penyebab seseorang untuk melupakan konsep Ketuhanan yang Maha Esa.

Negara yang Pernah Menerapkan Chauvinisme

Ilustrasi Benito Mussolini dan Adolf Hitler. (Dreamstime)
Ilustrasi Benito Mussolini dan Adolf Hitler. (Dreamstime)

1. Jerman

Jerman pernah memiliki pemimpin kejam, kaku, memusuhi kaum yahudi, anak anak cacat kaum kembar serta menganut paham Chauvinisme yang menganggap bangsa lain tidak baik dan hanya Jerman yang patut jadi negara terbaik di dunia. Paham tersebut memicu terjadinya perang dunia di mana Jerman kala itu dipimpin Adolf Hitler.

2. Jepang

Jepang pernah dipimpin oleh Tenno Haika yang menganut chauvinisme, di mana menganggap negara lain tidak lebih baik dari negaranya.

3. Italia

Italia dahulu pernah dipimpin oleh Benito Mussolini yang menganggap negara lain adalah negara peniru dan tidak kreatif. Sehingga pahamnya dikenal dengan paham yang kaku dan sombong.