Chevrolet Hengkang dari RI, Pengamat: Jangan Harap Bisa Balik Lagi

Pius Yosep Mali

VIVA – Pasar otomotif Indonesia menjadi target bagi banyak perusahaan kendaraan, untuk menawarkan produknya. Meski demikian, tidak semua merek sukses menjajal peruntungannya, salah satunya adalah Chevrolet.

Merek mobil di bawah naungan General Motors itu, sudah mengibarkan bendera putih untuk bersaing di Tanah Air. Jadi, mulai akhir Maret 2020 nanti,  tidak akan lagi ada produk baru. GM hanya akan memberikan layanan purnajual untuk penggemarnya di wilayah Nusantara.

Hengkangnya Chevrolet, dianggap oleh Pengamat Otomotif Bebin Djuana, sangat menyakiti pemilik mobil, dan pastinya bisa merusak kepercayaan masyarakat untuk merek otomotif Amerika Serikat.

"Ketika sudah ada yang suka dengan brand tersebut, terus main tinggal begitu saja, kan kesannya kayak digeletakin. Buat saya itu nggak bagus," ujarnya di Jakarta, Senin 11 November 2019.

Baca juga: Untung rugi beli mobil bekas lewat diler vs pemilik langsung

Menurutnya, keputusan untuk angkat kaki dan mengakhiri bisnis di suatu negara, harus dipikirkan secara matang dan penuh perhitungan. Jadi, bukan hanya bicara angka penjualan ataupun strategi yang tidak berjalan baik.
"Pengaruh jangka panjang pasti ada dan tidak mudah untuk kembali," tuturnya.

Terkait kondisi industri otomotif nasional, Bebin mengatakan, merek Ford dam Chevrolet tidak memiliki pasar yang besar. Jadi, tidak berpengaruh untuk industri otomotif Indonesia secara menyeluruh. Pengaruh besarnya, adalah kepercayaan masyarakat yang bisa hilang untuk merek itu.

"Kebetulan, kedua merek tadi volume (penjualan) enggak besar, jadi terhadap otomotif industri di domestik tidak ada pengaruhnya," ucapnya.