China Bikin Pelayaran Dunia Kekurangan Kontainer, INSA Usul Ini

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandemi Virus Corona asal China selama beberapa bulan ini, disebut membuat dunia mengalami kekurangan kontainer untuk memenuhi kegiatan logistik global. Hal itu pun berdampak pada seluruh stakeholder pelayaran.

Defisitnya jumlah kontainer global itu pun menjadi sorotan dunia pelayaran dan logistik saat ini. Para eksportir, termasuk di Indonesia disebut mengalami kesulitan mendapatkan kontainer untuk mengirimkan barangnya ke luar negeri.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto menceritakan, menyebarnya COVID-19 dari China ke seluruh penjuru dunia, membuat banyak negara melakukan lockdown. Ketika itulah terjadi penurunan jumlah kargo muatan kapal kontainer.

Baca juga: Ekspor Benur Disetop karena Suap Edhy Prabowo, Begini Nasib Nelayan

Menurutnya, untuk mempertahankan operasional, para operator pelayaran kontainer dunia melakukan efisiensi. Jumlah operasional kapal kontainer dipangkas agar beban biaya perusahaan berkurang.

Namun lanjut Carmelita, China terlebih dahulu mengatasi pandemi dan lebih dahulu melakukan aktivitas ekonominya serta kargo sudah mulai tumbuh kembali. Namun kontainer belum tersedia karena berkurangnya tenaga kerja dari negara-negara yang melakukan lockdown seperti Amerika Serikat.

Kekurangan kontainer pun terjadi. Kondisi ini, kata Carmelita, juga mengakibatkan terkereknya freight atau ongkos angkut pelayaran global menjadi lebih tinggi. Hal itu menjadi masalah turunan dari kekurangan tersebut.

"Khusus Indonesia, kekurangan kontainer ekspor ini disebabkan berkurangnya volume impor yang berarti menurunnya jumlah kontainer yang ke Indonesia," ujar Carmelita dikutip dari keterangannya, Jumat, 27 November 2020.

Dia menjabarkan, penyebab lainnya kekurangan kontainer tersebut karena terjadinya kongesti di beberapa pelabuhan perdagangan dunia saat ini. Seperti di Pelabuhan Singapura, Inggris, Tiongkok dan Amerika.

"Kongesti ini mengakibatkan terjadinya delay keberangkatan kapal dan mengubah jadwal pelayaran," ungkapnya.

Carmelita menyampaikan, DPP INSA menilai perlu adanya solusi dari Pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan untuk membawa kontainer kosong ke Indonesia. Adapun, 1.292 kontainer yang infonya terhambat ekspor agar diakomodasi untuk tujuan ekspor ke negara tujuan utama (long haul) seperti ke Eropa dan Amerika.

Selanjutnya, INSA juga mengusulkan agar repo kontainer kosong ke Indonesia untuk dibebaskan biaya bongkar di pelabuhan. Selain untuk mendorong dibukanya keran impor ke Indonesia, eksportir diharapkan mensubstitusi tipe kontainer dari biasanya menggunakan 40 HC menjadi 20 DC.

“DPP INSA sudah menyampaikan beberapa usulan ini dalam rapat beberapa waktu lalu dengan pemerintah dan stakeholder lainnya,” tambahnya.

Sementara itu, kata Carmelita, kekurangan kontainer tidak terjadi di pelayaran dalam negeri. Mengingat distribusi logistik dalam negeri dilakukan oleh armada kapal nasional, dan petikemasnya beredar di dalam negeri juga.

INSA pun mengimbau, operator kapal kontainer tetap menjaga kestabilan dan keharmonisan ongkos angkut atau freight. Agar distribusi logistik nasional tetap stabil khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini.

"Tetap dalam ambang kewajaran dan bersaing secara sehat dalam memberikan service, dan bukan bersaing pada ongkos angkut,” ujarnya.