China Buat Sistem Reaktor Nuklir Baru untuk Bangun Pangkalan di Bulan

Merdeka.com - Merdeka.com - Demi menggapai ambisi luar angkasanya, China akan membangun pangkalan di wilayah selatan Bulan. Pembangunan pangkalan di Bulan akan dilakukan Badan Antariksa Nasional China dan Roscosmos Rusia.

Pembangunan pangkalan dan mencari sumber listrik di Bulan adalah hal sulit. Karena itu China mengembangkan sistem pembangkit baru dari nuklir untuk mengaliri pangkalan Bulan itu dengan listrik.

"Kami sekarang sedang mengembangkan sistem baru menggunakan energi nuklir untuk mengatasi permintaan energi jangka panjang stasiun bulan, daya tinggi," jelas Wu Weiren, kepala perancang program eksplorasi bulan China, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (23/11).

Meski Wu tidak menjelaskan secara detail reaktor nuklir yang dibangun, namun berdasarkan laporan sebelumnya reaktor itu dapat menghasilkan listrik sebesar 1 megawatt. Listrik sebesar itu pun cukup kuat untuk mengaliri listrik ratusan rumah selama satu tahun.

Sebelumnya nuklir adalah sumber energi berkelanjutan yang dapat diandalkan. Di Bulan, nuklir dapat memberikan energi yang cukup bagi instrumen-instrumen untuk beroperasi hingga menghasilkan oksigen dan air untuk para astronot nanti.

Stasiun Bulan China yang diharapkan selesai 2028 nanti itu akan memiliki tempat pendaratan, hopper, pengorbit dan penjelajah. Semua instrumen dari alat komunikasi hingga moda transportasi akan dialiri energi nuklir.

Wu menjelaskan dasar pangkalan Bulan itu akan dibangun melalui misi luar angkasa China Chang’e 6, 7, dan 8. Setelah misi itu selesai, astronot China akan menjejakkan kaki di Bulan.

Setelah pembangunan selesai, pangkalan Bulan itu akan menjadi tempat penelitian internasional astronot-astronot China, Rusia dan negara-negara lain.

Sebelumnya wilayah selatan Bulan juga diincar negara lain untuk membangun pangkalan. Negara-negara termasuk China, Amerika Serikat (AS), dan Rusia sedang mempertimbangkan untuk membangun pangkalan luar angkasa di wilayah itu.

Namun Wu menjelaskan, China adalah negara pertama yang ingin membangun pangkalan Bulan di wilayah itu. Baginya wilayah di garis lintang 89 derajat memungkinkan pangkalan Bulan selama 180 hari untuk mendapat cahaya Matahari.

China kini sedang berusaha mengembangkan stasiun luar angkasanya dan menyelesaikan misi-misi luar angkasa.

Selama 10 – 15 tahun ke depan, Wu menjelaskan China akan fokus kepada empat aspek eksplorasi luar angkasa mendalam, yaitu melakukan deteksi dan dampak tubrukan asteroid, eksplorasi planet, dan pengembangan kendaraan peluncuran tugas berat.

"Kita perlu meningkatkan daya dorong roket kita setidaknya empat kali lipat untuk mendukung pendaratan berawak di bulan, Mars, dan transportasi massal antara tanah dan ruang dekat Bumi," jelas Wu.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]