China Ikut Perlombaan Angkasa Luar untuk Mencari Alien, Saingi AS dan Rusia

Liputan6.com, Jakarta - Kompetisi pencarian alien atau bentuk kehidupan di angkasa luar kini resmi diikuti oleh partisipan baru, setelah teleskop radio teranyar milik China menjadi salah satu teknologi antariksa yang diperhitungkan oleh komunitas sains.

Five-hundred-meter Aperture Spherical radio Telescope atau FAST milik China merupakan teleskop radio antena tunggal terbesar di dunia, menyatukan strategi teknologi untuk melakukan penelusuran besar dan menyeluruh dalam upaya mencari intelejensia ekstraterestrial atau SETI.

FAST juga menjadi inovasi terbesar dari kawasan Asia dalam ruang lingkup astronomi radio dan upaya pencarian alien.

Bagaimana jika suatu hari Tiongkok mengumumkan bahwa perburuan ini telah berhasil? Bagaimana klaim seperti itu diverifikasi, dan apa konsekuensinya? Dan bisakah perlombaan SETI internasional tidak resmi sudah berlangsung?

"China dapat menjadi pihak yang memiliki pengaruh yang besar di SETI saat ini," ujar Michael Michaud, penulis buku Contact with Alien Civilizations: Our Hopes and Fears about Encountering Extraterrestrials yang terbit pada 2007 silam, sebagaimana dikutip dari Space.com, Sabtu (23/5/2020). 

Menurut Michaud, China memiliki bakat dan teknik ilmiah yang luas.

"Teleskop FAST dapat memberi China mentransmisikan sinyal yang mungkin bisa diterima oleh peradaban makhluk luar angkasa," lanjut Michaud.

Pengiriman Sinyal

Allen Telescope Array (SETI Institute)

 

Sementara itu, dalam buku novel The Three-Body Problem yang terbit pada tahun 2008, penulis Cixin Liue menggambarkan bagaimana keadaan yang paling buruk jika manusia mengirimkan pesan ke luar angkasa atau messaging extraterrestrial intelligence (METI). 

"Masih belum jelas, apakah pandangan ini (mengirimkan sinyal ke luar angkasa) di terima oleh sebagian orang di China. Setiap pengiriman sinyal dari telescope radio FAST juga kemungkinan membutuhkan persetujuan dari kepemimpinan politik China," ujar Michaud.

Persaingan Pencarian Makhluk Luar Angkasa

Ilustrasi UFO di tengah malam. (Sumber Max Pixel untuk ranah publik via Creative Commons)

"Siapa pun rindu dengan perlombaan pencarian makhluk luar angakasa yang terjadi diantara Uni Soviet dan Amerika pada tahun 1960-an di kancah SETI internasional ini. Di SETI internasional, kerjasama lebih menang daripada persaingan yang dianjurkan," ujar Douglas Vakoch, presiden METI International di San Francisco. 

"Pada akhirnya, kunci agar pengiriman sinyal ini berjalan lancar adalah dengan kerja sama negara yang secara geografis terpisah dengan kemampuan pemrosesan sinyal yang canggih untuk mendeteksi transmisi dari peradaban maju," ujar Vakoch.

"Pada saat-saat seperti ini, ketika kita melihat virus corona dilabel ulang sebagai 'virus China' untuk dampak politik, kita perlu menghindari menghubungkan niat rahasia dengan ilmuwan SETI dari negara manapun," lanjutnya.

Selain itu Vakoch juga mengatakan bahwa para astronom yang tidak ingin bekerja sama dengan astronom lainnya, kemungkinan akan kalah dalam penemuan alien untuk pertama kalinya.

Mengontak Kolega Lainnya

Ilustrasi Tess dari NASA (Associated Press)

Ilmuwan SETI dilaporkan telah melacak sinyal yang menjajikan dalam penemuan alien dari sistem bintang terdekat. Namun Vakoch menekankan agar penelitian itu terus dilanjutkan bahkan setelah bintang itu diamati dari observatorium mereka. 

"Itu berarti ilmuwan dapat menghubungi koleganya untuk dapat mulai mengamati ketika bintang muncul di lokasi mereka. Dalam skenario terbaik, para ilmuwan harus bisa mengamati sinyal tersebut selama 24/7 dalam beberapa situs di saat yang sama," ujarnya.

Vakoch mengatakan bahwa, ketika China mengimplementasikan Survei FAST Astronomi Radio Commensal (CRAFTS), mereka akan mencari fenomena yang sangat berbeda seperti ledakan radio, pulsar, dengan kemampuan pemrosesan sinyal yang ditingkatkan --sinyal buatan yang khas buatan intelejensia luar angkasa. 

"Kecuali Anda dapat mengamati sinyal yang sama yang datang dari luar angkasa di dua lokasi di Bumi, menggunakan observatorium independen, karena sulit untuk mengesampingkan sinyal yang disebabkan oleh kesalahan teknis di satu situs."

"Kemunculan sinyal yang menarik saat tidak ada observasi untuk transien bisa dengan cepat menghilang, jadi semakin tinggi juga tekanan untuk menentukan apakah sinyal itu memiliki karakteristik sinyal alien atau bukan," lanjutnya. 

Namun saat ilmuwan SETI mendeteksi sinyal kandidat yang baik dari FAST China, maka mereka harus menunggu konfirmasi dengan telescope radio lainnya di Parkes di Australia, atau Observatorium Green Bank di Amerika Serikat, kata Vakoch.

Dalam pencarian alien, biasanya ilmuwan akan berfokus kepada satu sistem bintang, dan bila tidak ada tanda-tanda sinyal lainnya, maka ilmuwan akan pindah ke sistem bintang berikutnya. Namun jika alien juga memberikan transimi sinyal kepada Bumi bertepatan dengan pencarian sinyal, mungkin para ilmuwan itu lebih dari beruntung.

Konsekuensi dari Pencarian

Penampakan pasukan bercahaya diduga UFO di langit Carolina Utara, AS. (William Guy/Youtube)

Namun menurut penulis Steven Dick, tidak ada SETI yang resmi dan tidak resmi, hanya ada dua negara yang saat ini mencoba memecahkan misteri dunia ini. Pencarian ini sendiri akan melibatkan banyak pihak, para astronom, komunikasi, dan beragam ilmuwan dalam ilmu sosial dan humaniora. 

Bahkan menurut Steven Dick penemuan alien (jika berhasil) akan memberi perubahan terhadap sudut pandang manusia, dalam hal agama, filosofis dan ilmiah. 

 

Reporter: Yohana Belinda

Simak video pilihan berikut: