China Masih Enggan Terima Bantuan dari AS untuk Atasi Virus Corona?

Liputan6.com, Beijing - China kini lebih transparan mengenai Virus Corona daripada krisis sebelumnya yang dialami, tetapi Beijing belum menerima tawaran bantuan AS untuk mengatasi epidemi tersebut. Demikian kata penasehat keamanan nasional Gedung Putih Robert O'Brien pada Minggu 2 Februari 2020.

"Sejauh ini China lebih transparan daripada krisis sebelumnya dan kami menghargai itu," kata O'Brien dalam sebuah wawancara dengan CBS "Face the Nation."

Namun, Beijing masih belum menanggapi tawaran bantuan AS dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit federal (CDC) dan profesional kesehatan lainnya guna membantu mengatasi Virus Corona itu. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (3/2/2020). 

"Kami belum mendengar kabar dari China tentang tawaran itu, tetapi kami siap untuk terus bekerja sama dengan mereka," kata O'Brien.

"Kami memiliki keahlian yang luar biasa. Ini adalah keprihatinan dunia. Kami ingin membantu rekan-rekan China kami selagi kami bisa. Dan kami telah membuat penawaran, kami akan melihat apakah mereka menerima tawaran itu."

Sementara mereka belum diundang ke China, para pejabat CDC berada di negara tetangga Kazakhstan untuk membantu menjaga penyebaran virus, kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Minggu saat berkunjung ke sana.

Lindungi Kazakhstan

Anggota tim Kementerian Kesehatan Italia bersiap-siap untuk menerapkan langkah-langkah dan prosedur kesehatan terhadap risiko wabah virus corona yang mematikan, setelah penumpang mendarat di bandara Fiumicino Roma, Italia (23/1/2020). (Aeroporto Di Roma/AFP)

"Anda memiliki perbatasan panjang dengan China yang menjadi tempat asal penyakit ini," kata Pompeo dalam sebuah wawancara dengan seorang wartawan Kazakhstan. "Dan kita punya orang-orang kita dari Pusat Pengendalian Penyakit di sini, membantu Kazakhstan menangani hal ini sehingga kamu tidak mengalami wabah besar."

Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan pada hari Minggu bahwa Virus Corona telah menewaskan 304 orang di China dan kasus infeksi terus melonjak.

Setidaknya 171 kasus telah dilaporkan di banyak negara dan wilayah lain, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Hong Kong dan Inggris.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: