China Perintahkan Pertambangan Batu Bara Genjot Produksi demi Atasi Krisis Energi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - China memerintahkan pertambangan batu bara di negaranya untuk meningkatkan produksi dalam upaya meredakan krisis listrik yang terjadi.

Diketahui bahwa China, tengah berjuang untuk menyeimbangkan kebutuhan listriknya dengan upaya mengatasi krisis iklim.

Pihak berwenang di Mongolia Dalam, provinsi penghasil batubara terbesar kedua di China, telah meminta 72 tambang untuk meningkatkan produksi dengan total 98,4 juta metrik ton.

Ini terkuak dari laporan surat kabar pemerintah China, Securities Times dan Securities Journal, yang mengutip dokumen dari Administrasi Energi Mongolia Dalam, dilansir dari CNN Business, Senin (11/10/2021).

Perintah itu, yang disetujui pada 7 Oktober 2021, akan segera berlaku. Angka tersebut setara dengan sekitar 30 persen dari produksi batubara bulanan di China, menurut data pemerintah baru-baru ini.

Kekurangan listrik di 20 provinsi di China dalam beberapa pekan terakhir, membuat pemerintah terpaksa menjatah listrik selama jam sibuk dan beberapa pabrik menghentikan produksi.

Gangguan ini juga mengakibatkan penurunan tajam dalam output industri bulan lalu dan membebani prospek ekonomi China.

Masalah itu juga membuat harga batubara anjlok. Harga batu bara termal berjangka di Zhengzhou Commodity Exchange anjlok sebanyak 6,7persen. Saham penambang batu bara dan produsen listrik utama China juga anjlok.

Saham Yanzhou Coal Mining (YZCAY) turun 11 persen di Hong Kong, dan China Resources Power (CRPJY) turun 12 persen.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Batubara Sebagai Sumber Energi Utama di China

Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Penjatahan listrik itu dilakukan hanya beberapa hari setelah badan perencanaan ekonomi utama China meminta tiga provinsi penghasil batu bara terbesar di negara itu — Mongolia Dalam, Shanxi, dan Shaanxi — untuk mengirimkan 145 juta metrik ton batu bara pada kuartal keempat, sehingga "penggunaan batu bara untuk mata pencaharian" tidak terganggu, menurut pernyataan terpisah oleh otoritas provinsi tersebut pekan lalu.

Langkah-langkah ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi China karena upayanya untuk menyeimbangkan kebutuhan negara dengan dorongan Presiden Xi Jinping untuk China yang netral karbon pada tahun 2060.

Batubara merupakan sumber energi utama di China, dan banyak digunakan untuk pemanasan, pembangkit listrik, dan pembuatan baja. 2020 lalu, batubara menghasilkan membuat hampir 60 persen dari penggunaan energi negara itu - sumber utama emisi karbon di sana.

Awal 2021 ini, China telah menutup ratusan tambang batu bara – atau mengurangi produksi – di tengah dorongan nasional untuk mengurangi emisi karbon.

Negara itu memberlakukan pembatasan impor batubara dari pemasok utamanya, yaitu Australia, karena meningkatnya ketegangan politik antara kedua negara.

Akibatnya, pasokan batubara turun tajam, meski permintaan melonjak karena pertumbuhan industri dan kondisi cuaca ekstrem.

Hal itu telah mendorong harga batu bara ke rekor tertinggi dan mengakibatkan kekurangan listrik yang meluas.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel