China Sambut Baik Rencana Penyelidikan WHO Terkait Virus Corona

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 1 menit

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Kamis (17/12) bahwa Cina telah mempersilakan tim penyelidik internasional COVID-19 yang diperkirakan akan melakukan perjalanan ke negara itu pada awal Januari 2021.

Babatunde Olowokure, Direktur Darurat Regional WHO di Pasifik Barat, mengatakan dalam konferensi pers bahwa organisasi tersebut tengah melakukan pembicaraan dengan Beijing mengenai lokasi yang akan didatangi para penyelidik.

"WHO terus menghubungi Cina dan membahas tim internasional serta tempat-tempat yang mereka kunjungi," kata Olowokure.

"Pemahaman kami saat ini adalah bahwa Cina menyambut tim internasional dan kunjungan mereka ... sejauh yang kami ketahui, rencana ini akan dilakukan pada awal Januari," katanya.

Pada hari Rabu (16/12), seorang anggota dan diplomat WHO mengatakan kepada Reuters bahwa misi internasional yang dipimpin oleh WHO diperkirakan akan berangkat ke Cina pada minggu pertama Januari 2021 untuk menyelidiki asal-usul virus yang memicu pandemi COVID-19.

Amerika Serikat, yang menuduh Cina telah menyembunyikan sejauh mana wabah tersebut menyebar, telah menyerukan penyelidikan WHO yang "transparan" dan mengkritik persyaratannya, karena memungkinkan para ilmuwan Cina melakukan tahap pertama penelitian pendahuluan.

Sebelum Cina, virus merebak di Eropa

Media pemerintah Cina melaporkan virus itu berada di luar negeri sebelum ditemukan di Wuhan, mengutip keberadaan virus pada kemasan makanan beku impor dan makalah ilmiah yang mengklaim telah beredar di Eropa tahun lalu.

Mengacu pada diskusi yang sedang berlangsung dengan Cina, kata Olowokure dalam konferensi pers: "Ini tentu saja penting bagi kami dan untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang bagaimana penyelidikan akan berjalan."

Lebih dari 72,92 juta orang dilaporkan telah terinfeksi virus corona secara global dan sedikitnya 1.641.733 telah meninggal, menurut penghitungan Reuters.

Infeksi tersebut terjadi di lebih dari 210 negara, sejak kasus pertama muncul di Cina pada Desember 2019.

ha/rap (Reuters)