China Siap 'Face to Face' dengan Amerika di Luar Angkasa

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVAChina meluncurkan modul tak berawak yang berisi tempat tinggal untuk tiga awak di stasiun luar angkasa permanen yang rencananya akan selesai pada akhir 2022.

Modul bernama "Tianhe" atau "Harmony of the Heavens", diluncurkan oleh roket pengangkut terbesar milik China, Long March 5B, dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di selatan Hainan pada Kamis, 29 April 2021 pukul 11.23 waktu setempat.

Baca: China Nyatakan Perang Lawan Asteroid

Tianhe adalah salah satu dari tiga komponen utama dari apa yang akan menjadi stasiun luar angkasa pertama yang dikembangkan sendiri di China, menyaingi satu-satunya stasiun lain yang beroperasi, yaitu Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang didukung oleh Amerika Serikat (AS), Rusia dan Jepang.

Nah, China dilarang berpartisipasi dalam ISS oleh Amerika, seperti dikutip dari situs Abc.net.au, Minggu, 2 Mei 2021. Tianhe akan menjadi tempat tinggal utama bagi tiga awak di Stasiun Luar Angkasa China, yang akan memiliki masa hidup setidaknya 10 tahun.

Peluncuran Tianhe adalah misi pertama dari sebelas misi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan stasiun luar angkasa, yang akan mengorbit dari Bumi pada ketinggian 340 hingga 450 kilometer.

Program luar angkasa adalah sumber kebanggaan nasional yang besar, dan Perdana Menteri Li Keqiang serta para pemimpin sipil dan militer lainnya menyaksikan peluncuran langsung dari pusat kendali di Beijing, ibu kota China.

Dalam misi selanjutnya, China akan meluncurkan dua modul inti lainnya, yaitu empat pesawat ruang angkasa berawak dan empat pesawat ruang angkasa kargo. Pengerjaan program stasiun luar angkasa yang dimulai satu dekade lalu ini ditandai dengan peluncuran laboratorium luar angkasa Tiangong-1 pada 2011.

Selanjutnya Tiangong-2 pada 2016. Keduanya membantu China menguji kemampuan pertemuan luar angkasa dan kemampuan 'docking'. China telah memprioritaskan eksplorasi luar angkasa dalam beberapa tahun terakhir, dengan tujuan menjadi negara dengan kekuatan luar angkasa utama pada 2030.

Peluncuran itu dilakukan saat China juga terus maju dengan misi tanpa awak, terutama dalam eksplorasi Bulan, dan telah mendaratkan penjelajah di sisi jauh Bulan yang belum banyak dijelajahi. Pada Desember 2020, Wahana Antariksa Chang'e 5 berhasil mengembalikan batuan Bulan ke Bumi untuk pertama kalinya sejak misi AS pada 1970-an.