China Sukses Kangkangi India dan Israel, Sejajar sama AS dan Rusia

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – China menjadi satu-satunya negara yang menginjakkan kakinya di Bulan setelah 40 tahun sejak Misi Luna 24 oleh Uni Soviet, kini Rusia. Misi Chang'e 1-4 menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berhasil mendarat di Bulan, tapi juga mampu mengoperasikan robot penjelajah.

Dilansir dari situs Live Science, Jumat, 27 November 2020, Chang'e memiliki tugas untuk mengambil sampel dan mengembalikannya ke Bumi. Langkah ini terbilang sangat menantang karena kesempatan gagalnya begitu besar.

Baca: KFC Jualan Ayam Goreng Pakai Teknologi 5G

Kegagalan tersebut sudah dirasakan oleh India dan Israel pada tahun lalu. Vikram, yang merupakan wahana pendarat milik Indian Space Research Organization (ISRO), tiba-tiba hilang kontak dengan Bumi sesaat akan menyentuh Bulan.

Sementara Wahana Antariksa Israel, Beresheet, nyaris saja mendarat di permukaan Bulan. Tapi pada saat-saat terakhir gagal. Hal ini menghancurkan impian mereka menjadi negara yang pernah mendaratkan wahana di satelit alami Bumi tersebut.

Baru-baru ini, Chang'e 5 berhasil mengirim robot ke Bulan dari Wenchang Space Launch Center, Hainan. Chang'e 5, yang artinya Dewi Bulan, terbang ke satelit alami Bumi menggunakan Roket Long March 5.

Chang'e 5 memiliki tujuan untuk mengambil sampel di Bulan. Jika misi ini berjalan lancar, maka sampel tersebut akan sampai kembali di Bumi pada pertengahan Desember 2020.

Mereka akan mendarat di Mons Rumker, sebuah dataran vulkanik di Ocean of Storm. Robot pendarat akan mempelajari lingkungan di sana dengan kamera, radar penembus tanah, dan spektrometer.

Tugas utamanya adalah merobek material Bulan sekitar 4,4 lbs dan beberapa akan digali hingga dua meter. Jika misi ini berhasil, maka ilmuwan China akan menguji beberapa teori kunci tentang asal mula Bulan dan tata surya yang berasal dari era Apollo.

Amerika Serikat (AS), lewat Misi Artemis, bertekad menerbangkan kembali manusia ke Bulan pada 2024. Lalu, ada Eropa yang juga memiliki rencana untuk terbang ke satelit alami Bumi, yang salah satu misinya mengirim robot pendarat seberat 1,3 ton.

Namun begitu, jika dibandingkan antara Badan Antariksa Eropa (ESA), niat China lebih mantap karena sudah melatih 18 taikonot – sebutan bagi astronot China – untuk ke Bulan dan Planet Mars.

Suka tidak suka, kemampuan China tidak bisa lagi diragukan. Mereka mampu tumbuh dengan pesat. China bahkan menghabiskan 2,5 persen dari PDB untuk penelitian dan pengembangan luar angkasa. Sedangkan Amerika Serikat (AS) 2,8 persen dari PDB. Data ini berdasarkan pada 2018.