China tawarkan kerja sama dengan Biden, ingatkan 'McCarthyisme' gaya baru

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Diplomat utama China pada Jumat menawarkan kerja sama pada prioritas-prioritas utama Presiden terpilih Joe Biden sembari memperingatkan bahwa banyak kalangan AS yang mengkritik Beijing tengah menciptakan suasana "McCarthyisme" dan mengabaikan kepentingan bersama.

Menyerang pendekatan hawkish (konservatif kanan) Presiden Donald Trump, Menteri Luar Negeri Wang Yi menyuarakan harapan bagi kembalinya perundingan dan "rasa saling percaya" antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia setelah Biden berkuasa 20 Januari nanti.

"Sungguh penting kebijakan AS terhadap China kembali ke objektivitas dan sensibilitas sedini mungkin," kata Wang dalam pidato virtual kepada Asia Society yang berbasis di New York.

Wang mengatakan China melihat "ruang bekerja sama" dengan Biden pada tiga dari empat masalah yang telah diidentifikasi sebagai prioritas segera Biden, yakni Covid-19, pemulihan ekonomi, dan perubahan iklim. Prioritas keempat Biden adalah kesetaraan ras.

Mengenai pandemi, Wang mengatakan Beijing dan Washington bisa berkolaborasi dalam membuat vaksin dan membantu negara-negara dunia ketiga.

"Kami berharap bisa memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan melalui dialog," kata Wang.

Pemerintahan Trump mengatakan bahwa berpuluh-puluh tahun hubungan AS dan China telah gagal dengan menuduh Beijing mencuri kekayaan intelektual, spionase yang merajalela dan pemaksaan terhadap negara-negara lain melalui ledakan proyek infrastrukturnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo telah menghentikan program pertukaran warga Amerika yang didanai China dan memperketat aturan visa bagi pelajar China serta anggota Partai Komunis dan keluarganya yang kemungkinan berdampak kepada ratusan juta orang.

"Kami menyaksikan McCarthyisme bangkit kembali dan membahayakan pertukaran internasional normal," kata Wang, merujuk perburuan yang dipimpin oleh senator Republik Joe McCarthy setelah Perang Dunia II terhadap mereka yang diduga komunis di dalam pemerintahan AS.

Wang menuduh para pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya atas "anggapan tidak bertanggung jawab atas kesalahan dan kutukan emosional".

"Mereka mengabaikan kepentingan umum yang luas dan ruang untuk kerjasama antara kedua negara dan bersikukuh China adalah ancaman utama," kata Wang.

"Ini seperti tidak sejajarnya kancing baju. Mereka melakukan kesalahan sejak awal."

Pemerintahan Trump tak menunjukkan tanda-tanda bakal mengurangi sikap kerasnya terhadap China saat memasuki bulan terakhir.

Pada Jumat, Departemen Perdagangan mengatakan sedang memberlakukan pembatasan kepada 77 entitas yang diwajibkan mendapatkan izin khusus agar bisa mendapatkan teknologi canggih AS.

Entitas-entitas yang menjadi sasaran itu termasuk dua universitas terkemuka -Institut Teknologi Beijing yang diduga berusaha mengamankan barang-barang AS demi kepentingan militer China dan Universitas Tianjin yang dituduh mencuri rahasia dagang.

Empat perusahaan juga menjadi sasaran karena membantu upaya China dalam memetakan DNA warga negaranya yang merupakan sebuah operasi yang menurut para aktivis digunakan untuk mengendalikan kaum minoritas, terutama Muslim Uighur.

"Perilaku korup dan penindasan China baik di dalam maupun di luar perbatasannya merugikan kepentingan keamanan nasional AS, merusak kedaulatan sekutu-sekutu dan mitra-mitra kita, serta melanggar hak asasi manusia dan martabat kelompok etnis dan agama minoritas," kata Menteri Perdagangan Wilbur Ross.

Pompeo secara terpisah memanfaatkan peringatan penemuan kasus Covid-19 pertama di Wuhan untuk mengangkat masalah pembungkaman para dokter yang pada awal pandemi sudah mengingatkan bahaya penyakit yang telah menewaskan lebih dari 1,6 juta orang di seluruh dunia tersebut.

Dia menuduh China terus menghalangi penyelidikan virus oleh Organisasi Kesehatan Dunia, yang dari sini pula Trump memerintahkan bantuan AS agar ditarik.

"China juga menjajakan vaksin yang kekurangan data penting tentang keamanan dan kemanjurannya karena secara mendasar mengabaikan transparansi dan akuntabilitas mengenai hasil uji klinis," kata Pompeo ketika Amerika Serikat memulai vaksinasi massal yang dibuat setelah penelitian yang intensif di Barat.

"Kedua tindakan tersebut membahayakan warga negara China dan dunia," kata Pompeo.

Biden, yang menginvestasikan waktu yang besar dalam diplomasi dengan China sewaktu menjadi wakil presiden, secara luas sepakat bahwa Beijing merupakan tantangan global dan telah menyerukan respons lebih keras terhadap hak asasi manusia.

Namun dia diperkirakan akan mengambil nada yang tidak terlalu agresif dibandingkan dengan Trump di mana calon menteri luar negerinya, Antony Blinken, berbicara soal kemungkinan kerja sama dalam perubahan iklim dan pandemi.

sct/sst