China Tepis Kritik Paus Fransiskus soal Muslim Uighur

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Pemerintah China menepis kritikan Paus Fransiskus tentang perlakuan yang dialami oleh kelompok minoritas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Dalam bukunya, Let Us Dream: The Path to A Better Future, Paus Fransiskus mengatakan "Saya sering memikirkan orang-orang yang dipersekusi: Rohingya, Uighur yang malang, Yazidi".

Inilah kali pertama Paus mengangkat nasib Muslim Uighur dalam konteks ini. Ia sebelumnya mengangkat penderitaan kelompok Rohingnya yang melarikan diri dari Myanmar dan pembunuhan orang-orang Yazidi oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Irak dan Suriah.

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan kritikan pemimpin umat Katolik itu tidak mempunyai landasan.

"Pernyataan Paus tentang komunitas Uighur tidak berdasar," katanya dalam jumpa pers pada Selasa (24/11).

"Saat ini, Xinjiang menikmati kemakmuran paling bagus sepanjang sejarah. Masyarakat makmur dan stabil. Semua kelompok etnik menikmati hak-hak mereka untuk hidup dan hak-hak mereka untuk menikmati pembangunan, "tambah Zhao Lijian.

Berbagai pemuka agama, organisasi HAM dan pemerintah mengatakan kejahatan terhadap kemanusiaan sedang dialami oleh Muslim Uighur.

Pemerintah China diyakini menahan sekitar satu juta warga Uighur di kamp-kamp yang disebut sebagai "pusat-pusat reedukasi".

China, Uighur, Pusat pelatihan di Xinjiang, September 2018
Beijing menegaskan pusat-pusat pelatihan seperti ini diperlukan untuk mencegah terorisime.

Beijing selama ini menepis tuduhan pihaknya melakukan penahanan massal warga Muslim Uighur di Xinjiang tersebut tetapi kemudian mengakui telah mengirim sejumlah orang ke "pusat-pusat reedukasi". Dikatakan pusat-pusat tersebut didirikan sebagai langkah penting melawan terorisme, menyusul kekerasan berlatar separatisme di wilayah Xinjiang.

Bantahan juga disampaikan pemerintah China sehubungan dengan laporan bahwa pihak berwenang telah memaksa perempuan Muslim Uighur untuk memasang alat kontrasepsi sebagai upaya mengendalikan jumlah penduduk Muslim Uighur.

Uighur adalah minoritas Muslim yang menganggap diri mereka punya kedekatan kultural dan etnik dengan negara-negara Asia tengah.

Sebagian besar dari mereka tinggal di Provinsi Xinjiang, China barat. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 11 juta orang atau sekitar 45% dari total penduduk di tempat itu.

Xinjiang diperlakukan sebagai daerah otonomi di dalam China. Namun para pengamat mengatakan selama bertahun-tahun, pemerintah pusat secara bertahap mengekang kegiatan keagamaan, komersial dan kebudayaan Uighur, seiring dengan kedatangan etnik mayoritas Han untuk menetap di Xinjiang.