China Terapkan Tes Swab COVID-19 lewat Anus, Tak Sampai 10 Detik

Mohammad Arief Hidayat, ABC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Pemerintah China menerapkan langkah baru yang ketat, termasuk melakukan tes swab anal melalui lubang anus, di tengah melonjaknya kasus COVID-19 menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

Melakukan tes swab melalui lubang anus menimbulkan perdebatan di kalangan pakar kesehatan China. Pemerintah menerapkan tes ini bagi mereka yang menjalani karantina di hotspot penularan COVID-19. Masa karantina bagi pendatang ke China diperpanjang menjadi satu bulan

Mereka yang dianggap perlu mendapatkan pengawasan ketat yaitu para pendatang dari luar negeri.

Mereka diharuskan menjalani empat tes yaitu tes darah, swab melalui hidung, tenggorokan, dan melalui lubang anus.

"Menerapkan tambahan swab melalui anal akan meningkatkan pendeteksian infeksi dan mengurangi kekeliruan diagnosis," kata Li Tongzeng, direktur asosiasi penyakit pernapasan dan infeksi pada Rumah Sakit You’an di Beijing.

Kepada media pemerintah Central Chinese Television, Dr Li mengatakan karena swab anal lebih menimbulkan rasa tak nyaman hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjalani karantina di kawasan hotspot penularan COVID-19, termasuk distrik Daxing di Beijing.

Seorang warga dari kota Tangshan mengatakan kepada media setempat jika tes swab anal yang ia jalani "agak memalukan" tapi semuanya demi kebaikan sendiri.

"Tes berlangsung tak sampai 10 detik. Jadi bisa ditoleransi," ujarnya.

Douyacai, seorang mahasiswa yang baru kembali dari Korea Selatan, telah menjalani swab anal di Beijing pada hari ke-14 karantina.

Dalam utas di salah satu media sosial, Douyacai menyebut dirinya dites dua kali melalui lubang anus.

"Rasanya sangat malu. Tidak ada perasaan lain. Selamat menjalani," tulis Douyacai.

Winny, seorang mahasiswa yang kuliah di Australia, mengaku telah menjalani swab anal ini saat berada dalam karantina di kota Guangzhou.

Selain swab mulut, katanya, ia juga menjalani swab anal pada hari ke-12 karantina.

Dr Sanjaya Senanayake smiles.
Dr Sanjaya Senanayake smiles.

Dr Sanjaya Senanayake menyebut pemerintah China tampaknya ingin mendeteksi sebanyak mungkin kasus COVID-19. Supplied

Pakar penyakit menular di Australian National University (ANU) Dr Sanjaya Senanayake mengaku tidak yakin dengan apa yang ingin dicapai melalui swab anal.

"Jelas, dari sudut pandang kepatuhan, pastilah orang lebih memilih swab hidung atau tenggorokan daripada swab anal," katanya kepada ABC.

Yang Zhanqiu dari Universitas Wuhan mengatakan swab hidung dan tenggorokan masih merupakan tes paling efisien untuk COVID-19, mengingat virus ini tertular melalui saluran pernapasan bagian atas dibandingkan sistem pencernaan.

"Ada kasus-kasus tentang tes virus corona positif pada kotoran pasien, tapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu ditularkan melalui sistem pencernaan seseorang," kata Dr Yang kepada Global Times, media milik pemerintah China.

Sebuah makalah yang diterbitkan oleh sejumlah peneliti China pada Agustus 2020 menyimpulkan: "Swab anal mungkin spesimen optimal untuk deteksi SARS-CoV-2 untuk mengevaluasi keluarnya pasien COVID-19 dari rumah sakit."

"Pasien dengan hasil feses yang positif memerlukan isolasi lebih lanjut sampai virusnya benar-benar hilang," tambahnya.

Dr Senanayake mengatakan Pemerintah China tampaknya berusaha untuk menemukan kasus sebanyak mungkin.

Workers in white hazmat suits and face masks hold an inspect partially constructed masks sitting on a silver bench.
Workers in white hazmat suits and face masks hold an inspect partially constructed masks sitting on a silver bench.

Pemerintah China sejauh ini melaporkan sekitar 90 kasus positif COVID-19 dengan 4.600 kematian. (Foto: Reuters via cnsphoto)

"Tetapi bila ditemukan kasus positif melalui swab anal, hal itu mungkin membingungkan," katanya.

Para pendatang dari luar negeri kini menghadapi skema karantina dan isolasi selama sebulan yang diterapkan di banyak kota.

Pekan lalu, Beijing, misalnya, telah mengumumkan karantina "14 + 7 + 7" bagi pelancong luar negeri, melibatkan 14 hari karantina hotel, tujuh hari karantina rumah, dan tujuh hari pemantauan kesehatan.

Provinsi Jilin dan Zhejiang serta kota Dalian kabarnya telah memberlakukan tindakan serupa.

Tempat lain seperti kota Nanjing dan provinsi Heilongjiang memberlakukan aturan 14 hari karantina dan 14 hari isolasi di rumah.

Tak rayakan Imlek

Sementara itu, pemerintah telah berulang kali memperingatkan warga untuk menahan diri dan tidak melakukan perjalanan "mudik" untuk merayakan tahun baru Imlek.

Menurut data Kementerian Transportasi, tercatat hampir 3 miliar perjalanan yang dilakukan warga pada periode Tahun Baru Imlek 2019, sebelum pandemi COVID-19 berlangsung.

Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial kini mendorong pengusaha untuk memberikan insentif bagi karyawan mereka agar tetap tinggal di rumah.

A vendor wearing a mask to protect from coronavirus uses a pole to lower lanterns
A vendor wearing a mask to protect from coronavirus uses a pole to lower lanterns

Banyak warga China yang mengurungkan niatnya untuk merayakan tahun baru Imlek di tengah pandemi COVID-19. (Foto: AP: Ng Han Guan)

Di Beijing, pemerintah kota telah melarang semua pertemuan massal, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek di kuil dan acara olahraga.

Tempat-tempat hiburan, seperti bioskop dan tempat hiburan lainnya, hanya boleh beroperasi dengan kapasitas 75 persen.

Mereka yang melanjutkan perjalanan pada tahun 2021 harus menunjukkan hasil tes COVID-19 negatif yang diambil tujuh hari sebelum perjalanan.

China mencatat peningkatan harian terendah dalam kasus COVID-19 dalam lebih dari dua minggu pada hari Rabu, menunjukkan langkah-langkah ketat yang diterapkan mulai berhasil.

Komisi Kesehatan Nasional menyebutkan ada 75 kasus baru pada 26 Januari, turun dari 82 sehari sebelumnya.

Dari 75 kasus tersebut, 50 kasus adalah penularan lokal, dan 20 sisanya diklasifikasikan sebagai kasus impor.

Secara total, China sejauh ini mencatat 89.272 kasus virus corona dengan 4.636 kematian.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.