Cilacap targetkan luas tanam palawija capai 15.000 hektare pada 2021

·Bacaan 3 menit

Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menargetkan luas tanam palawija khususnya kedelai dan jagung di lahan sawah pada 2021 mencapai 10.000-15.000 hektare, kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap Supriyanto.

"Kalau di lahan sawah, sebagian belum mulai (tanam palawija) karena panen padi belum selesai. Kami sebenarnya menargetkan penanaman palawija dilakukan pada awal musim hujan, sekitar bulan September-Oktober, karena sekarang musim kering (kemarau)," katanya di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu.

Dalam hal ini, kata dia, area persawahan di wilayah timur Kabupaten Cilacap untuk sementara diistirahatkan karena musim kering, namun di wilayah barat khususnya daerah pegunungan yang secara alami tersedia air sehingga masih bisa ditanami, meskipun tidak signifikan.

Baca juga: Pakar sebut tanaman palawija solusi terbaik saat musim kemarau

Oleh karena itu, dia mengharapkan area persawahan di wilayah barat Kabupaten Cilacap dapat ditanami palawija setelah selesai panen padi.

"Setelah panen ini, kami harapkan sebagian bisa ditanami kedelai, sebagian ditanami jagung, tetapi sporadis, tidak terlalu luas. Yang pasti, penanaman palawija kami prioritaskan pada awal musim hujan," katanya menjelaskan.

Terkait dengan potensi panen padi pada musim sadon atau kemarau, Supriyanto menargetkan hasilnya lebih baik dari tahun sebelumnya karena pertanaman lebih bagus.

"Cuma permasalahannya kualitas gabah yang dihasilkan seperti pada awal Juli, wilayah timur kan sudah panen, cuma secara kebetulan ada angin kencang dan hujan. Itu kan memengaruhi kualitas gabah," katanya.

Bahkan, kata dia, harga gabah kering panen (GKP) saat itu hanya sebesar Rp3.400 per kilogram atau jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP yang sebesar Rp4.200 per kilogram.

"Oleh karena itu, petani menjerit, tapi kondisinya kayak begitu. Di satu sisi memang kita sedang over supply (pasokan berlebih), di satu sisi kualitas gabah pas kemarin panen ada yang kurang bagus, sehingga harganya juga kurang bagus," katanya.

Menurut dia, pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan berdasarkan hasil rapat secara virtual dengan Kementerian Pertanian diambil solusi meminta bantuan Perum Bulog.

Akan tetapi ternyata, kata dia, Bulog juga tidak bisa menjual gabah dan beras yang dibeli dari petani.

"Dia (Bulog) bisa beli tetapi tidak bisa 'membuang' (menjual) kan juga neracanya jadi negatif. Nukoni thok ora bisa adol (membeli terus tetapi tidak bisa menjual), itu masalah juga," katanya.

Sementara untuk kebutuhan beras untuk pasar lokal, kata dia, saat sekarang sedang tidak begitu baik seiring dengan adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) seperti tidak adanya acara hajatan serta penutupan sementara kegiatan pariwisata yang berdampak pada sektor perhotelan dan rumah makan.

"Secara otomatis penyerapan beras di tingkat masyarakat ya sangat rendah, ditambah lagi Bulog tidak lagi mampu menyerap gabah terlalu banyak. Enggak tahu nanti harga gabah akan seperti apa, karena stok gabah di Bulog aman dan nasional mengakui bahwa capaian produksi bagus, tetapi capaian harga ini petani yang menjerit," katanya.

Padahal, kata dia, luasan panen padi sampai akhir bulan Juli untuk wilayah timur Kabupaten Cilacap yang masuk daerah irigasi Serayu hampir mencapai 19.000 hektare, sedangkan untuk wilayah barat yang diperkirakan akan memasuki masa panen pada bulan Agustus mencapai kisaran 45.000 hektare.

Terkait dengan hal itu, Supriyanto mengharapkan adanya kebijakan nasional untuk mengantisipasi anjloknya harga gabah di tingkat petani. "Mungkin dengan melakukan ekspor," katanya.

Baca juga: Produksi palawija di Lebak hingga Agustus capai 41.122 ton
Baca juga: Kementan pacu penggunaan aplikasi IMACE, permudah ekspor pertanian

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel