Cinta Beda Agama, Hubungan yang Gagal Dipertahankan tapi Paling Berkesan

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Tulisan kiriman Sahabat Fimela.

***

Oleh: D

"Andaikan dulu obrolan dalam hubungan kita semenyenangkan ini," katanya.

Aku terdiam. Sudah empat jam kami ngobrol dan memang ini adalah waktu yang menyenangkan. Kami berdua duduk berhadapan di pojok sebuah coffee shop yang remang, di kota di mana dulu kami pertama bertemu dan memulai cerita.

Lima tahun lalu, kami masih sama-sama remaja dengan lobus frontal yang belum sempurna sehingga penuh dengan perasaan menggebu-gebu, pengambilan keputusan yang ngawur, dan pengendalian diri nol besar. Pikiranku kembali mengenang hubungan kami dulu. Berawal dari pertemuan karena menunggu dosen yang sama. Dia melihat aku bersimpuh di koridor lalu bertanya, "Buku apa yang kamu baca?" dan pembicaraan kami mengalir begitu saja.

Mengobrol dengannya membuatku seperti berkaca. Tahu nggak sih rasanya melempar candaan dan ditangkap dengan sempurna? Sepanjang bersamanya otakku terus menerus bertanya, "Where have you been?"

Kami hanya dua kali mengobrol dan sepertinya aku sudah kecanduan. Aku ingin lagi. Aku rakus sekali. Setiap kali berpapasan, ekor mata kami saling bertabrakan. Setiap kali aku memasuki lorong gedung fakultas. Aku mencari-cari sosok yang paling tinggi dan cemerlang. Lalu aku hanya perlu berdiri menyender dinding sebentar dan dia akan datang melempar satu atau dua kalimat sapaan. Aku seperti tertarik pada magnet dalam dirinya, dan itu tak bertepuk sebelah tangan.

Tapi sungguh tak tahu diri kalau aku berandai-andai, kan? Dalam strata sosial, penampilan dan kepintaran, aku berada di kelas yang paling dasar. Dan melihatnya seperti sedang menatap bintang-bintang.

Lalu dia lulus dan aku tak tahu kabarnya. Lalu kami saling menemukan lagi via media sosial. Sebulan saling berkirim pesan, dia mengungkapkan sayang. Seperti khayalan yang jadi nyata karena masak sih lelaki ini menyukaiku? Tak ada kata jadian. Kami beda agama, kami tahu kami tak akan ke mana-mana.

Hubungan Saat Itu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81

Dipisahkan jarak, sentuhan paling intim kami hanyalah sebatas telepon berjam-jam dari malam hingga pagi menemani shift kerjanya berakhir. Obrolan kami hanya sekadar mengenang masa praktikum di kampus dan penelitian betakaroten. Karena memang tak ada yang bisa diharapkan dari otak rata-rataku dulu. Tak ada topik yang bisa dibicarakan lewat layanan terbatas sms. Memecahkan masalah stunting dan kemiskinan struktural?

Aku sadar hubungan kami jadi terasa membosankan. Tapi aku telanjur sayang dan takut kehilangan. Dia yang sayang lalu jadi tak sayang-sayang amat. Aku yang tak tahu malu, dia yang jadi tak terlalu mau. Kami terlalu timpang. Aku memegang terlalu erat sesuatu yang harusnya dari awal kulepaskan. Lalu aku ditinggal saat aku sedang paling sayang. Tidak, koreksi sebentar. Aku selalu sayang.

Lalu dia dekat dengan temanku yang paling cantik, mereka beradu rayu lalu bertemu di sebuah kamar hotel yang menurut sumpahnya, tak terjadi apa-apa. Lalu kami berbaikan lagi dan menjadi teman lama yang paham situasi. Kami tak pernah membicarakan perasaan atau masing-masing pasangan, hanya guyonan garing atau menggombal.

Dan obrolan empat jam kami barusan tepat seperti saat-saat kami awal berkenalan, penuh pelangi dan kembang api. Mengobrol dengannya membuatku seperti berkaca. Tahu nggak sih rasanya melempar candaan dan ditangkap dengan sempurna? Sepanjang bersamanya otakku seribu kali berkata, "Iya, seperti ini rasanya jatuh cinta."

Dan apabila dulu kami menjadi pasangan di dunia nyata, apakah semuanya bakalan berbeda?

Pilihan yang Diambil Saat Ini

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/fizkes
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/fizkes

"Jadi, kamu tahu kalau dulu dia pernah nyamperin ke hotelku waktu aku liburan di sini?"

"Iya. Dia sendiri yang cerita," jawabku dengan lidah kaku. Kejadian itu memang sudah lima tahun yang lalu, tapi memangnya aku bisa lupa?

"Aku nggak ngapa-ngapain kok sama dia. Dia cuma bawain aku camilan trus pulang," belanya.

Aku memilih untuk tetap memandang meja meski melihat matanya terdengar sangat menggoda.

"Sejujurnya aku nggak peduli, baik dulu ataupun sekarang. Mungkin ini hanya ego sesama wanita. Kita bersama, tapi menyentuh wajahmu saja aku tidak bisa, kita tidak sempat. Lalu kamu bersama dengan temanku, kalian saling suka dan punya kesempatan berdua sebagai manusia dewasa. Kamu bahagia? Ya sudah. Aku juga bahagia kok. Terdengar naif ya. Tapi kemudian kalau memang bukan aku yang kamu inginkan, aku bisa apa?" cerocosku.

"Aku brengsek sekali ya buatmu. Aku minta maaf sama kamu atas ketololan dan kelabilanku dulu," katanya.

"Saat itu memang sakit. Tapi apakah kamu salah? Enggak. Kita tidak terikat komitmen. Kamu manusia bebas," jawabku cepat. Rasanya aku seperti ingin menangis.

"Dan aku di sini sekarang. Dan mungkin ini yang terakhir karena bulan depan aku pindah ke Kalimantan. Nggak ada alasan buat ke sini lagi," jelasnya.

Ya. Takdir memang kurang ajar, mempertemukan kami hanya sebentar dan di persimpangan.

"Di antara semua temanku yang ada di sini, aku memilih ketemu kamu. Aku berangkat lebih awal agar ada waktu denganmu," lanjutnya.

"Tapi kamu ingin kita bertemu di tempat lain," kataku.

"Iya, tapi kamu menolak," katanya.

"Kita sudah melakukan perjanjian di awal. Kalau kamu datang hanya untuk mencicipi tubuhku, mendingan nggak usah repot-repot deh," kataku, tentu saja bercanda dan hanya ingin membuat drama.

"Dasar bodoh, aku cuma pengen ketemu kamu."

Sesaat, aku berpikir apabila saja aku mengiyakan tawarannya untuk bertemu di tempat yang lain, akan ada kesempatan untuk membayar utang hasrat yang sudah lewat atau melayangkan peluk pertama dan perpisahan. Meskipun aku juga ingin menampar dan mendampratnya atas luka yang kini masih menganga. Tapi aku memilih di sini. Melindungi diri. Mengulurkan tangan ke arahnya saja aku ciut.

"Apabila kita lebih dari ini, aku nggak tahu apakah aku bisa bertanggung jawab atas perasaanku sendiri," kataku. "Aku memilih tempat ini bukan karena aku ingin bersaing kesucian dengan temanku. Enggak. Aku ingin menjaga kamu dari hal-hal yang kamu sesali kemudian."

Kali ini aku berperan menjadi orang waras, meski dulu aku pernah tergila-gila dengannya.

"Anak pintar. Itulah kenapa dulu dulu aku jatuh cinta sama kamu."

"Apa maksudnya?" tanyaku. Dasar, nggak nyambung.

"Aku juga menyadari kalau kita lebih dari ini, apakah aku bisa pulang dengan hati tenang dan tanpa rasa bersalah," katanya.

"Terus kenapa kamu menawari aku mampir?" aku bertanya.

"Karena, ya, perasaan itu masih ada," ucapnya lirih.

Aku memilih tak bertanya lagi, tak mau tahu, tak ingin membahas. Cukup, hehe. Karena, yah, untuk apa? Untuk menambah asupan 'apabila' di kepala?

*

Kami berpisah terburu-buru seolah ada yang harus dia kerjakan. Dia bahkan tak menunggu taksiku datang. Dia tak membalas pesanku hari itu dan berminggu-minggu kemudian, hal yang hanya dia lakukan saat aku ditinggalkan lima tahun yang lalu.

Kadang, aku sering membayangkan apabila aku mengambil tawarannya untuk mampir ke tempat yang lebih intim. Terdengar sangat menggiurkan, tapi aku tahu itu akan membuat hatiku tidak bisa bertahan. Baper tingkat tinggi, of course. Memangnya, siapa yang tidak? Dan aku tak ingin menanggung apa-apa yang tak bisa aku tanggung.

Tapi bila ditanya cinta mana yang mungkin ingin kukenang, jawabannya mungkin adalah dia. Cinta yang membuat aku menahan diri setengah mati. Cinta yang tak ke mana-mana. Cinta yang dipenuhi 'apabila'. Karena manusia suka menerka-nerka, kan?

#ElevateWomen