Cinta dalam Satu Liter Minyak Goreng, Kasih Ibu Membuatku Bertahan di Perantauan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: NP

Bukan pada bunga, cokelat atau hal romantis lainnya, cinta yang kutulis kali ini ada pada satu liter minyak yang dihabiskan oleh ibu untuk menjual gorengan. Bagaimana bisa?

Kisah ini bermula saat aku masih kuliah di sebuah kota yang cukup jauh dari rumah. Meskipun dari keluarga biasa dan berasal dari pedesaan yang masih kolot tentang peran perempuan, tetap saja keinginanku untuk kuliah cukup tinggi.

Syukurlah, aku memiliki orangtua yang mendukung keinginan tersebut dalam keterbatasan beliau berdua. Dukungan tentu saja bukan hanya restu tapi juga biaya. Saat meminta dukungan mereka, aku berjanji dalam hati untuk mendapatkan berbagai beasiswa, karena kebetulan aku diterima di perguruan tinggi negeri, tentunya kesempatan mendapatkan beasiswa lebih besar.

Hidup sebagai anak perempuan bungsu yang jauh dari keluarga, tinggal di kota besar dan dalam sebuah kamar kos yang cukup mungil membuatku lebih struggle menghadapi tantangan hedonisme kehidupan kota. Gaya hidup sederhana aku lakukan dan bersyukurnya lagi harapan untuk mendapatkan beasiswa prestasi terpenuhi sejak semester dua sampai semester akhir. Tidak berhenti sampai beasiswa, aku juga bekerja paruh waktu sebagai guru les privat di beberapa lembaga bimbingan belajar.

Bapak memang bekerja, tapi pada saat aku kuliah, kakak yang sedang di ibu kota sedang pailit bisnisnya. Oleh sebab itu, orang tua fokus menyelesaikan bisnis kakak. Ibu berprofesi sebagai IRT, meskipun demikian ibu selalu berjualan, apa pun itu yang penting halal.

Terima Kasih, Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wongszeyuen
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wongszeyuen

Keadaan keuangan yang kembang kempis membuat ibu bekerja lebih keras membantu perekonomian keluarga. Apalagi anak perempuan yang jauh dari rumah sedang berjuang menuntut ilmu membuat beliau berjualan lebih giat. Membuat es lilin dan dititipkan ke beberapa sekolah sebagai tambahan belanja sehari-hari serta membuat berbagai jenis gorengan setiap dini hari dan sore hari.

Berbagai jenis gorengan yang dijual oleh ibu menjadi favorit warga kampung, pesanan pun terus berdatangan. Setiap hari tanpa libur, beliau berjualan gorengan di rumah. Hampir setiap hari beliau habiskan 1 liter minyak goreng dan mampu menyisihkan sebagian keuntungan gorengan sekitar Rp10.000 - Rp15.000 di celengan. Ya, celengan bukan rekening bank, ribet katanya kalau bank. Hasil tabungan selama satu bulan itu yang selalu dikirimkan ke aku lewat transfer sebagai uang bulananku di perantauan.

Dengan menghabiskan satu liter minyak goreng setiap hari, ada cinta yang ditabungnya untuk dikirimkan kepada anak perempuannya. Terima kasih untuk cinta satu liter minyak gorengnya, bu!

#ElevateWomen