Cinta Tidak Menyakitimu, Orang yang Tak Tahu Cintalah yang Menyakitimu

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Cinta selalu menjadi topik pembahasan yang tak pernah ada habisnya. Banyak orang mempertanyakan mengapa orang lain bisa menemukan cinta yang manis sedangkan ia hanya mengalami cinta yang pahit, mungkin beberapa dari kita masih banyak yang salah paham soal cinta. Seperti juga yang dialami seorang perempuan yang menceritakan kisahnya di Yourtango, sebut saja Carla, yang mempertanyakan apa itu cinta.

Aku berasal dari keluarga di mana para perempuannya kurang kasih sayang atau tak pernah dicintai dengan semestinya oleh para pria. Nenekku, ibuku, tante-tanteku, sepupu dan saudara perempuanku, semua mengalami hal yang sama. Ayah-ayah kami memberikan cinta yang minim dan tak lebih.

Saat menjalani hidup, kami melihat kegagalan cinta pertama membentuk pemikiran tentang seperti apa itu cinta. Tidak lebih indah dari cerita dongeng yang banyak diceritakan orang-orang.

Ketika nenek berusia tujuh puluh empat tahun, ia menuliskan tentang keluarganya dalam buku harian. "Tidak ada yang pernah datang berkunjung ke sini. Aku tidak tahu kenapa. Kurasa aku baik dan ramah, tapi tidak ada yang datang." Ia merasa tidak dicintai karena pria yang membuatnya jatuh cinta adalah pria yang menghancurkan hatinya.

Definisi cinta yang salah

ilustrasi pasangan cinta/Photo by Jonathan Borba from Pexels
ilustrasi pasangan cinta/Photo by Jonathan Borba from Pexels

Kami semua datang berkunjung. Kerabat, anak-anak dan cucunya mengunjunginya di rumah, namun ia tak bisa melihat cinta dadi semua itu. Cinta yang ada dalam pikirannya tertutupi oleh bayang-bayang ia tak dicintai oleh ayah dan mantan suaminya.

Ketika aku pulang ke rumah suatu hari, ibu sedang cerai dengan suami ketiganya dan menangis. Ia bertanya mengapa harus ia yang mengalami hal ini. Apa yang salah dengannya, mengapa ia diselingkuhi dan mengapa dia selalu memilih orang yang menyakitinya. Meskipun ia dicintai oleh kelima anak-anaknya, ia juga tak melihat hal itu sebagai cinta yang semestinya, karena hatinya telah banyak terluka oleh para mantan suaminya.

Ketika aku berusia sembilan belas tahun, sebelum menemukan jati diri dan mengalami patah hati pertama kali, aku juga bertanya "Bagian diriku yang mana yang membuatnya sangat tak ingin mencintaiku? Mengapa ia memandangku dengan tatapan merendahkan dan mengapa selalu aku yang berakhir dengan hati yang kosong?"

Begitu banyak penderitaan di sekelilingku dan justru saat itulah aku mulai memutus rantai kepedihan ini. Aku menyadari bahwa bukan aku yang tidak layak untuk dicintai, tapi caraku mendefinisikan cinta itu sendiri yang salah. Bukan cinta itu sendiri yang menyakiti, namun orang yang tak bisa memberi cintalah yang menyakiti.

Aku tak ingin lagi mengemis cinta, larut dalam bayangan kasih sayang yang sebenarnya hanya bentuk dari keputusasaan. Selama ini aku berpikir jika tak menemukan pasangan, aku tak akan lengkap. Aku berharap orang lain membuatku bahagia.

Kata orang kita tak akan bisa menemukan cinta sejati ketika kita tak bisa mencintai diri sendiri. Mungkin memang aku yang perlu membuat perubahan dalam diriku sendiri. Belajar mencintai diri sendiri agar tak dijatuhkan dan disakiti.

Aku akan membiarkan cinta datang dengan sendirinya, jenis cinta yang mau saling menjaga, saling memberi dan tidak hanya sepihak. Saat bercermin, aku tak akan bertanya mengapa aku tak dicintai, aku hanya akan meminta maaf karena aku telah salah menilai cinta selama ini.

#ElevateWomen with FIMELA