Ciri-Ciri Buku Fiksi dan Unsur-unsurnya yang Perlu Diketahui

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Buku fiksi adalah jenis buku yang isinya berupa cerita yang sifatnya imajinatif. Jadi, untuk menuliskan buku fiksi tidak diperlukan adanya pengamatan.

Tak hanya itu, dalam menulis buku fiksi juga tidak perlu pula pertanggungjawaban kebenarannya karena ide cerita yang ditulis merupakan khayalan atau imajinasi penulis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi adalah cerita rekaan atau khayalan yang tidak berdasarkan pada kenyataan.

Dalam cerita fiksi biasanya menggambarkan kejadian, pengalaman seseorang, atau sejarah yang dibumbui dengan imajinasi dan kreativitas dari penulis.

Cerita fiksi cenderung memiliki struktur yang bebas atau sesuai dengan penulis. Kendati demikian, cerita fiksi biasanya sarat pesan moral di dalamnya.

Adapun contoh genre buku fiksi, yaitu cerita anak, dongeng, novel, cerita pendek (cerpen), fabel, dan komik.

Berikut ini rangkuman tentang ciri-ciri buku fiksi dan unsur-unsurnya yang perlu diketahui, seperti dilansir dari emodul.kemdikbud.go.id, Selasa (2/11/2021).

Unsur-Unsur Buku Fiksi

Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Enzo
Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Enzo

Sebelum membahas ciri-ciri buku fiksi, ketahui dulu unsur-unsurnya. Adapun unsur-unsur dari buku fiksi, sebagai berikut:

1. Sampul buku.

2. Perincian subbab buku.

3. Judul subbab.

4. Tokoh dan penokohan.

5. Tema cerita.

6. Bahasa yang digunakan.

7. Penyajian alur cerita.

8. Latar.

9. Amanat.

Ciri-Ciri Buku Fiksi

Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: unsplash.com/Thought
Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: unsplash.com/Thought

1. Penulisan Fiksi Menggunakan Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan pemilihan atau penggunaan kata yang digunakan dalam menulis karangan fiksi. Adapun gaya bahasa yang digunakan biasanya bermajas metafora, personifikasi, dan perumpamaan.

Pengertian majas adalah gaya bahasa yang digunakan oleh penulis karya fiksi untuk menyampaikan pesan secara imajinatif atau kiasan. Hal tersebut bertujuan untuk menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembaca.

Ada banyak jenis-jenis majas. Jenis majas yang sering digunakan dalam karya fiksi adalah majas metafora dan personifikasi. Untuk memahami jenis-jenis majas bisa mengeklik tautan ini.

Ciri-Ciri Buku Fiksi

Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Aline
Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Aline

2. Bahasa Bersifat Konotatif

Kata yang digunakan dalam penulisan karangan fiksi mengandung makna yang tidak sebenarnya atau konotatif. Hal ini menyebabkan pesan yang disampaikan penulis tidak disampaikan secara langsung dan tersamarkan.

Kata yang bersifat konotasi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif. Konotasi positif adalah kata kiasan yang memiliki makna positif/baik. Sedangkan konotasi negatif adalah kata kiasan yang memiliki makna negatif/kurang baik.

Contoh penggunaan kata kiasan bermakna positif, 'Didin adalah keturunan darah biru'. Kata 'darah biru' bermakna sebagai keturunan bangsawan.

Contoh penggunaan kata kiasan yang bermakna negatif, 'Marco Bento sudah tahu akal bulus Bejo. Kata 'akal bulus' tersebut mempunyai makna sebagai licik atau penipu.

Ciri-Ciri Buku Fiksi

Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Gabby
Ilustrasi membaca cerita fiksi. Credit: pexels.com/Gabby

3. Berdasarkan imajinasi atau khayalan

Dalam karangan yang bersifat fiksi, penggambaran kehidupan berdasarkan imajinasi penulis. Kemampuan imajinasi akan meningkat seiring berkembangnya kemampuan seseorang dalam berbicara dan berbahasa.

Imajinasi lahir dari proses mental yang manusiawi dan dapat mendorong semua kekuatan yang merangsang emosi untuk berperan aktif dalam pemikiran dan gagasan kreatif.

Sumber: Kemdikbud

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel