Ciri-Ciri DBD pada Bayi, Pengobatan, dan Pencegahan yang Perlu Dilakukan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Ciri-ciri DBD harus dikenali agar bisa segera ditangani dengan tepat. DBD atau demam berdarah disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Virus tersebut akan masuk ke aliran darah manusia melalui gigitan nyamuk ini.

Nyamuk Aedes aegypti memiliki ciri-ciri tubuh berukuran lebih kecil, badannya berwarna hitam pekat dengan dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kakinya. Nyamuk ini banyak hadir di tempat gelap dan sejuk sehingga lebih banyak ditemukan di dalam rumah dibandingkan di luar rumah yang panas.

DBD atau Demam Berdarah Dengue bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Bahkan, DBD ternyata juga bisa menyerang bayi. Bayi yang berusia di bawah 1 tahun juga sangat berisiko terkena DBD.

Sampai saat ini, DBD masih menghantui masyarakat Indonesia di beberapa daerah. Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (13/7/2021) tentang ciri-ciri DBD pada bayi.

Ciri-Ciri DBD pada Bayi

Ilustrasi/copyright pixabay.com
Ilustrasi/copyright pixabay.com

Ciri-ciri DBD pada bayi perlu benar-benar diperhatikan. Hal ini dilakukan agar kamu bisa segera melakukan tindakan penanganan yang tepat. Biasanya, seseorang dapat mengalami demam berdarah dalam waktu 4-10 hari setelah tergigit nyamuk yang membawa virus dengue.

Dikutip Liputan6.com dari KlikDokter, ciri-ciri DBD pada bayi bisa dikenali sebagai berikut:

- Demam. Demam menjadi ciri-ciri DBD yang paling sering dialami oleh bayi saat terinfeksi. Demam yang dialami bayi biasanya membuat suhu tubuhnya meningkat hingga lebih dari 37,5 derajat Celsius.

- Bintik-bintik merah di kulit. Ciri-ciri DBD pada bayi berikutnya adalah timbulnya bintik-bintik merah di kulit. Bintik merah yang muncul di permukaan kulit bayi biasanya tidak dapat hilang walaupun direnggangkan.

- Kantuk dan kurang energi. Mengantuk dan kekurangan energi juga menjadi salah satu ciri-ciri DBD pada bayi. Bayi pada dasarnya belum bisa menyampaikan rasa sakit yang dikeluhkan. Namun, jika dia terus mengantuk, kurang energi, dan disertai gejala lainnya, hal tersebut bisa menjadi pertanda infeksi demam berdarah.

- Pendarahan yang tak biasa. Ciri-ciri DBD pada bayi berikutnya adalah pendarahan yang tidak biasa. Kondisi ini bisa terjadi di gusi dan hidung. Bayi juga bisa mengalami memar pada waktu yang sama.

- Muntah. Infeksi demam berdarah pada bayi juga akan menyebabkan muntah beberapa kali. Dilaporkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), biasanya bayi akan muntah minimal 3 kali dalam 24 jam saat terjangkit DBD.

Jika bayi mengalami ciri-ciri DBD seperti yang telah disebutkan, kamu disarankan untuk segera membawanya ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.

Pengobatan DBD

Sampai saat ini belum ada vaksin atau metode pengobatan yang spesifik dalam mengobati DBD. Penanganan yang diberikan dokter biasanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi saja.

Penanganan tersebut juga biasanya sambil membantu tubuh untuk melawan virus dengue agar bisa sembuh secara alami. Penanganan DBD sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan pemantauan dari dokter, hingga kondisi bayi membaik.

Bila dokter mengijinkan bayi dirawat di rumah, kamu perlu melakukan beberapa tindakan berikut:

- Pastikan bayi cukup istirahat

- Pastikan bayi tidak kekurangan cairan. Bayi usia 6 bulan ke bawah hanya diperbolehkan minum ASI atau susu formula. Air putih bisa diberikan ketika usianya sudah di atas 6 bulan.

- Untuk meredakan demam, kamu bisa memberikan obat penurun demam yang diresepkan oleh dokter.

Pencegahan DBD

Ilustrasi Demam Berdarah  (Liputan6.com/Johan Fatzry)
Ilustrasi Demam Berdarah (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Dari siklusnya, penderita demam berdarah akan mengalami ciri-ciri DBD secara teratur selama 2-7 hari. Setelah demam mereda, gejala lain menjadi lebih buruk dan bisa menyebabkan perdarahan yang parah. Jika tidak segera tertangani dengan baik, gejala seperti dehidrasi, pendarahan, dan penurunan tekanan darah yang cepat dapat terjadi.

Ciri-ciri DBD tersebut dapat mengancam nyawa bayi jika tidak segera mendapatkan perawatan medis. Hingga saat ini, demam berdarah belum tersedia vaksinnya. Oleh karena itu, jika bayi tinggal di area rawan nyamuk berkembang biak, orang tua perlu melakukan langkah pencegahan.

Menurut rilis resmi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI pada 2016 silam, pencegahan DBD melalui Program PSN meliputi:

- Menguras. Merupakan kegiatan membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain

- Menutup. Yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya;

- Memanfaatkan kembali. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Sementara itu adapun yang dimaksud dengan 3M Plus dalam Pencegahan DBD adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti:

1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan;

2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk;

3) Menggunakan kelambu saat tidur;

4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk;

5) Menanam tanaman pengusir nyamuk,

6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah;

7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Selain PSN 3M Plus, sejak Juni 2015 Kemenkes sudah mengenalkan program 1 rumah 1 Jumantik (juru pemantau jentik) untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat Demam Berdarah Dengue.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel