Ciri-Ciri Puisi Beserta Jenis, Unsur, dan Contohnya yang Perlu Diketahui

·Bacaan 5 menit

Bola.com, Jakarta - Puisi adalah satu di antara bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya imajinatif.

Puisi juga dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulisnya. Pesan yang ingin disampaikan penyair dirangkai dengan kata-kata yang indah, yang berbeda dengan bahasa sehari-hari.

Bahkan, bahasa dalam puisi juga berbeda dengan bahasa karya sastra lainnya, seperti drama atau prosa. Puisi biasanya dibuat berdasarkan pengalaman hidup atau ide-ide kreatif yang bermakna.

Hal tersebut yang membuat banyak orang menyukai puisi. Dalam membuat tentunya tidak mudah. Ada aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam membuat atau menyusun puisi.

Yap, ada beberapa karakteristik dari puisi yang perlu diperhatikan sebelum menyusunnya, seperti ciri-ciri, unsur, jenis hingga contohnya.

Berikut ini rangkuman tentang ciri-ciri puisi, jenis, unsur hingga contohnya, seperti dikutip dari laman GuruPendidikan dan ZonaReferensi, Rabu (27/1/2021).

Jenis-Jenis Puisi

Ilustrasi menulis, puisi. (Gambar oleh cromaconceptovisual dari Pixabay)
Ilustrasi menulis, puisi. (Gambar oleh cromaconceptovisual dari Pixabay)

Sebelum mengenali ciri-ciri puisi, kamu tentunya harus mengetahui jenis-jenis puisi terlebih dahulu. Jenis puisi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu puisi lama dan puisi baru.

Puisi Lama

Puisi lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan lama, seperti jumlah baris, jumlah bait, bunyi sajak atau rima, jumlah suku kata pada tiap baris, dan irama. Berikut beberapa jenis puisi lama:

  • Mantra: sajak yang berisi ucapan-ucapan yang masih dianggap mempunyai suatu kekuatan gaib.

  • Pantun: bentuk puisi lama yang memiliki ciri-ciri puisi yang bersajak a-b-a-b, tiap baris terdiri delapan hingga 12 suku kata, dua baris awal pantun merupakan sampiran, dan dua baris akhir merupakan isi, dan tiap bait terdiri dari empat baris.

  • Karmina: jenis pantun lebih pendek.

  • Gurindam: jenis puisi lama yang terdiri dari dua baris dalam satu bait, bersajak a-a-a-a, dan berisi nasihat-nasihat.

  • Syair: jenis puisi lama yang berasal dari negara Arab, mempunyai ciri tiap bait terdiri empat baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau sebuah cerita.

  • Talibun: jenis puisi lama yang memiliki ciri-ciri puisi seperti sebuah pantun genap, yang tiap baitnya terdiri dari sebuah bilangan genap seperti enam, delapan, maupun sepuluh baris.

Puisi Baru

Puisi baru adalah sebuah puisi yang sudah tidak terikat oleh aturan tertentu layaknya puisi lama. Jenis puisi baru ini memiliki bentuk yang lebih bebas dibandingkan dengan puisi lama baik dalam jumlah baris, suku kata, maupun rima. Berikut beberapa jenis puisi baru:

  • Balada: jenis puisi yang berisi cerita-cerita. Balada terdiri dari tiga bait, masing-masing bait terdiri dari delapan larik, larik pertama memiliki skema rima a-b-a-b-b-c-c-d, kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c, dan skema rima yang terakhir dalam satu bait pertama digunakan sebagai referensi dalam bait-bait selanjutnya.

  • Himne: puisi baru yang digunakan sebagai pujaan untuk Tuhan, tanah air, pahlawan, dan lembaga.

  • Ode: puisi baru yang berisi sanjungan bagi orang yang berjasa. Nada dan gaya ode sangatlah resmi, bernada anggun, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi maupun suatu peristiwa.

  • Epigram: puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup.

  • Romansa: puisi yang berisi luapan perasaan penyair tentang cinta kasih.

  • Elegi: puisi yang berisi sebuah kesedihan.

  • Satire: puisi yang berisi sindiran atau kritikan.

  • Distikon: puisi yang tiap baitnya terdiri dari dua baris atau puisi seuntai.

  • Terzinaa: puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari tiga baris.

  • Kuatrain: puisi yang tiap baitnya terdiri dari empat baris.

  • Kuint: puisi yang tiap baitnya terdiri dari lima baris.

  • Sektet: puisi yang tiap baitnya terdiri dari enam baris.

  • Septime: puisi yang tiap baitnya terdiri dari tujuh baris.

  • Oktaf atau Stanza: jenis puisi yang tiap baitnya terdiri dari delapan baris.

  • Soneta: jenis puisi baru yang memiliki ciri-ciri puisi terdiri dari 14 baris yang dibagi menjadi dua, pada dua bait pertama terdiri empat baris, dan pada dua bait kedua terdiri tiga baris.

Ciri-ciri Puisi

Ilustrasi menulis, puisi. (Gambar oleh Christine Sponchia dari Pixabay)
Ilustrasi menulis, puisi. (Gambar oleh Christine Sponchia dari Pixabay)

Ciri-Ciri Puisi secara Umum

1. Penulisan puisi dituangkan dalam bentuk bait yang terdiri atas baris-baris, bukan bentuk paragraf.

2. Diksi yang dipakai dalam puisi biasanya bersifat kiasan, padat, dan indah.

3. Penggunaan majas sangat dominan dalam bahasa puisi.

4. Pemilihan diksi yang digunakan mempertimbangkan adanya rima dan persajakan.

5. Dalam puisi, setting, alur, dan tokoh tidak begitu ditonjolkan dalam pengungkapan.

Ciri-Ciri Puisi Lama

1. Anonim atau tidak diketahui siapa nama penulis puisi.

2. Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi, dan sebagainya.

3. Memiliki gaya bahasa yang statis/tetap dan klise.

4. Merupakan sastra lisan karena disampaikan dan diajarkan dari mulut ke mulut.

Ciri-Ciri Puisi Baru

1. Nama pengarang atau penulis puisi diketahui.

2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama.

3. Mempunyai gaya bahasa yang dinamis atau berubah-ubah.

4. Puisi cenderung bersifat simetris atau memiliki bentuk rapi.

5. Lebih menggunakan sajak syair atau pola pantun.

6. Puisi biasanya berbentuk empat seuntai.

7. Terdiri dari kesatuan sintaksis atau gatra.

8. Pada tiap gatra terdiri dari empat sampai lima suku kata.

9. Isi puisi baru umumnya berisi tentang kehidupan.

Unsur-Unsur Puisi

Ilustrasi menulis puisi. Credit: pexels.com/Ylanite
Ilustrasi menulis puisi. Credit: pexels.com/Ylanite

Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang pas dan selaras dalam puisi. Pilihan kata yang pas akan menghidupkan situasi, perasaan, serta keindahan dari puisi.

Majas

Majas adalah satu gaya bahasa yang berbentuk kiasan. Pengarang puisi biasanya memakai bahasa kiasan agar puisi yang ditulis terlihat indah serta menarik.

Bahasa kiasan mempunyai tujuan untuk mengemukakan secara otomatis tentang arti yang disebut oleh pengarang puisi.

Rima atau Unsur Bunyi

Rima atau unsur bunyi bisa disebut sebagai sajak. Jadi, rima merupakan satu pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak atau pada akhir larik di sajak.

Pengulangan bunyi ini ditujukan untuk menambah nilai merdu dari puisi yang ditulis.

Citraan atau Imajinasi

Citraan dipakai untuk memancing imajinasi dari pembaca. Pengarang puisi bakal memakai kata yang biasa dipakai untuk mengungkap pengalaman imajinasinya.

Kata-kata yang dipakai itu memberi kesan pada panca indra untuk pembaca. Jenis-jenis citraan dalam puisi antara lain, citraan pandang, citraan dengar, citraan rasa, serta citraan pengecap.

Contoh Puisi

Ilustrasi membuat puisi. Credit: unsplash.com/fotografi
Ilustrasi membuat puisi. Credit: unsplash.com/fotografi

Aku Ingin

Karya: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

Hujan Bulan Juni

Karya: Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Sumber: GuruPendidikan, ZonaReferensi