Ciri-Ciri Teks Cerita Inspiratif Beserta Struktur dan Contohnya

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Teks cerita inspiratif adalah kisah yang menggugah pembacanya untuk menjadi lebih baik melalui pengalaman penuh inspirasi dari sebuah cerita.

Melalui teks cerita inspiratif, pembaca akan mendapatkan pembelajaran moral atau sosial. Tak hanya itu, para pembaca teks cerita inspiratif diharapan mampu menanamkannya dalam kehidupan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inspiratif berasal dari kata 'inspirasi' yang berarti ilham.

Jadi, teks cerita inspiratif merupakan teks yang berisi cerita fiksi maupun pengalaman yang benar-benar terjadi, yang mampu menggugah inspirasi dan semangat seseorang yang membacanya.

Sesuai penjelasan di atas, tujuan dari teks cerita inspiratif ialah menambah dan menggugah motivasi, semangat, dan rasa percaya diri untuk menghadapi semua tantangan yang ada.

Adapun cerita yang disajikan dalam jenis teks di atas biasanya berasal dari kisah hidup seseorang, rekaan penulis, atau kisah-kisah yang dapat diambil dari perilaku binatang di kehidupan nyata.

Untuk mengetahui apakah itu teks cerita inspiratif atau bukan, bisa membaca ciri-cirinya. Tak hanya itu, penting juga mengetahui struktur yang membangun teks cerita inspiratif beserta contohnya.

Berikut ini rangkuman tentang ciri-ciri teks cerita inspiratif beserta struktur dan contohnya, seperti dilansir dari laman Serupa.id dan Wartabahasa, Kamis (25/3/2021).

Ciri-Ciri Teks Cerita Inspiratif

Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/LisaFotius
Ilustrasi menulis. Credit: pexels.com/LisaFotius

- Teks cerita inspiratif biasanya memiliki tema tertentu yang dapat dikembangkan menjadi sebuah kisah yang menarik.

- Selain tema, teks cerita inspiratif memiliki alur cerita tertentu hingga pembaca dapat memahami cerita yang disajikan serta pesan yang terkandung di dalamnya.

- Cerita inspiratif merupakan bentuk narasi yang lebih bertujuan memberi inspirasi kebaikan kepada banyak orang.

- Kisah inspiratif yang baik dapat menggugah perasaan, memberi kesan yang mendalam bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi mampu membuat seseorang berjanji pada dirinya untuk menjadi seperti yang dibacanya.

- Cerita inspiratif adalah teks yang menginspirasi seseorang berbuat lebih baik, lebih peduli, dan lebih berempati terhadap orang lain.

Struktur Teks Cerita Inspiratif

Ilustrasi menulis. | pexels.com/@tirachard-kumtanom-112571
Ilustrasi menulis. | pexels.com/@tirachard-kumtanom-112571

Struktur Teks Cerita Inspiratif:

1. Orientasi, yang merupakan pengantar cerita.

2. Perumitan peristiwa, dapat berisi kisah tokoh dan peristiwa menuju ke puncak cerita atau konflik kisah.

3. Komplikasi, merupakan puncak dari konflik atau inti cerita, biasanya bagian ini juga menjadi tempat peristiwa utama yang menjadi inspirasi.

4. Resolusi, berisi penyelesaian konflik yang berisi peristiwa yang menyadarkan tokoh tentang kebaikan yang seharusnya ia jalani.

5. Koda, yakni penutup cerita, dan dapat berisi kesimpulan serta penjelasan pesan moral yang dikandung dalam kisah.

Contoh Teks Cerita Inspiratif

Ilustrasi menulis. /Copyright unsplash.com
Ilustrasi menulis. /Copyright unsplash.com

Garam dan Telaga

  • Orientasi

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

  • Perumitan peristiwa

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan saksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya...", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

  • Komplikasi

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi, 'Bagaimana rasanya?"

"Segar". sahut tamunya.

"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.

"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

  • Resolusi

Pak Tua itu lalu kembali memberikan naihat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

  • Koda

Demikianlah, hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Sumber: Serupa, Wartabahasa