Ciri Ternak Terpapar Penyakit Mulut Kuku dan Penanganan Bila Terpapar

Merdeka.com - Merdeka.com - Hewan ternak di beberapa daerah diketahui terserang penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini sangat menular pada hewan berkuku belah/bercabang dua misalnya sapi, babi, dan domba.

Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner IPB (Institut Pertanian Bogor), drh Denny W Lukman, penyakit mulut dan kuku hanya terjadi pada hewan dan tidak menular ke manusia.

Denny menyebut, penyakit mulut dan kuku sangat menular. Penyakit ini disebabkan virus Aphtovirus dari famili Picornaviridae. Ada tujuh setotipe virus yakni O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3, dan Asia 1. Virus penyebab penyakit mulut dan kuku yang pernah ada di Indonesia tahun 1983 hanya serotipe O.

Gejala Hewan Ternak Terserang PMK

Denny mengatakan beberapa gejala klinis yang muncul pada hewan yang terjangkit penyakit mulut dan kuku, di antaranya:

- Demam tinggi bisa mencapai 41 derajat Celcius,
- Pembengkakan limfoglandula mandibularis, dan hipersalivasi (air liur berlebihan).
- Adanya lepuh dan erosi sekitar mulut, moncong hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku dan puting ambing.

Pada situs Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok dijelaskan, gejala paling umum dari PMK adalah demam dan pembentukan lepuh, bisul serta koreng pada mulut, lidah, hidung, kaki, dan puting. Lesi kaki terjadi pada daerah band koroner dan sela jari kaki.

Kemudian, ternak yang terinfeksi biasanya depresi, enggan bergerak, dan hilang nafsu makan. Dampaknya terjadi penurunan produksi susu, berat badan, dan buruknya pertumbuhan. Hewan terinfeksi juga mungkin memiliki cairan hidung dan air liur berlebihan.

Sedangkan pada domba dan kambing menunjukkan gejala sangat ringan namun keduanya masih dapat menyebarkan virus. Untuk hewan babi yang terinfeksi sering menunjukkan gejala sakit pada kaki namun jarang sekali memperlihatkan lesi mulut. Kematian jarang terjadi akibat penyakit ini. Namun pada hewan muda dapat menyebabkan kerusakan kuku permanen dan mastitis kronis.

Sedangkan penyakit mulut dan kuku disebarkan oleh kontak langsung, seperti ketika hewan sehat menyentuh, menggosok, atau menjilati hewan yang sakit. Virus ini juga dapat menyebar secara aerosol tergantung pada suhu lingkungan dan kelembaban. Hewan juga dapat terinfeksi dari makanan/pakan terkontaminasi atau melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi (fomites).

Cara Melindungi Ternak dari PMK

Mencegah masuknya PMK, peternak diminta menggunakan prosedur biosekuriti ketat. Kemudian melakukan isolasi hewan baru atau hewan yang akan kembali ke peternakan beberapa minggu sebelum dimasukkan ke kawanan.

Jangan keluarkan barang-barang dari peternakan dan selalu bersihkan serta menyemprotkan desinfeksi sebelum digunakan kembali. Kandang ternak dan peralatan harus selalu bersih dan didisinfeksi.

Kemudian, pantau selalu hewan Anda terhadap gejala penyakit. Jika masih berlanjut, hubungi dokter hewan Anda segera.

Berapa Penyakit Menyerang Hewan?

drh Denny W Lukman menambahkan, daya tahan virus penyebab penyakit mulut dan kuku pada hewan bervariasi. Namun umumnya, bertahan pada air yang tergenang hingga 50 hari, rumput 74 hari, tanah 26 sampai 200 hari, feses kering 48 hari, dan feses basah 8 hari. Lalu cairan feses (manur) 34 sampai 43 hari, bahkan dalam limfonodus, sumsum tulang, tetesan darah, jeroan bisa bertahan beberapa bulan.

Virus penyebab penyakit mulut dan kuku banyak terdapat dalam jaringan, sekresi dan eksresi sebelum dan pada waktu timbulnya gejala klinis. Penyakit ini bisa menular ke hewan lain. Penularannya melalui kontak dengan hewan atau bahan tercemar, jalur inhalasi (pernafasan), ingesti (mulut/makan) dan melalui perkawinan alami ataupun buatan.

Upaya Pencegahan

Meski sangat menular, penyakit mulut dan kuku dapat dikendalikan. Upaya pengendaliannya antara lain, jika ada hewan demam tinggi atau sakit segera laporkan ke Dokter Hewan atau Puskeswan atau Dinas. Kemudian jika hewan sakit dipisahkan dan jangan dijual, tidak memotong hewan sakit, menjaga kebersihan kandang, alat, dan orang yang menangani hewan.

Denny menjelaskan, secara ilmiah telah dibuktikan oleh penelitian yang telah dipublikasi bahwa virus penyakit mulut dan kuku tidak dapat bertahan hidup dalam daging (deboned and deglanded) yang telah mengalami rigor mortis. Namun, masih bertahan hidup pada hati, ginjal, rumen, dan darah yang dibekukan.

"Jika ingin memastikan bahwa pada daging tidak ada virus yang aktif, maka harus dilakukan pengujian secara biakan bukan uji PCR," katanya. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel