Citayam Fashion Week: bukti pentingnya kota ramah anak, bagaimana mewujudkannya?

Hingga kini, fenomena ‘Citayam Fashion Week’ masih merajai perbincangan publik di jagat media sosial.

Aksi para remaja dari kawasan penyangga ibu kota – termasuk Citayam, Bojonggede, dan Depok – yang membanjiri kawasan Sudirman-Dukuh Atas di Jakarta tak hanya merebut hati masyarakat dengan gaya unik mereka, tapi juga memicu perdebatan penting terkait pembangunan kota dan ruang publik yang inklusif dan ramah anak.

Lire la suite: Citayam Fashion Week: mengurai munculnya subkultur fesyen jalanan para remaja pinggiran

Bahkan, belum lama ini, Wakil Wali Kota Depok menyatakan keinginannnya memperlebar trotoar di daerah Margonda di kotanya untuk mereplikasi kenyamanan berjalan (walkability) serupa dengan kawasan Sudirman agar para remaja tak harus jauh-jauh main ke Jakarta. Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Bandung juga memerintahkan pemerintah kotanya untuk menambah ruang publik yang inklusif untuk semua golongan.

Bagaimana cara mewujudkan kota yang ramah anak, supaya keramaian ala Citayam Fashion Week tak hanya bertempat di kawasan Sudirman-Dukuh Atas, tapi juga seluruh wilayah Indonesia?

Dalam episode terbaru podcast SuarAkademia, kami berbicara dengan Rendy Diningrat, peneliti pembangunan dan ketimpangan sosial di SMERU Research Institute.

Ia menceritakan dampak dari nihilnya ruang publik bagi anak terhadap tumbuh kembang dan kesejahteraan mereka, pentingnya mendayagunakan forum anak yang inklusif dalam pembangunan kota, dan perbandingan akses taman di luar negeri termasuk Australia.

Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia – ngobrol seru isu terkini, bareng peneliti dan akademisi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel