Citilink Setop Terbang di Bandara Soedirman Hanya Sampai Pekan ke-4 Oktober

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengelola Bandara Jenderal Besar Soedirman menyebut maskapai Citilink tidak secara resmi menghentikan operasionalnya di bandara tersebut. Dengan demikian, operasional Bandara Soedirman masih tetap berjalan normal.

GM Angkasa Pura Kantor Cabang Bandara JB Soedirman, Catur Sudarmono mengatakan hal demikian.

“Kalau secara resmi Citilink tidak menghentikan operasi di bandara Jenderal Besar Soedirman,” katanya kepada Liputan6.com, Selasa (26/10/2021).

Ia mengutip, bahwa menurut berita yang beredar, Citilink hanya menghentikan operasionalnya pada pekan ketiga dan keempat Oktober 2021.

“Dari berita yang dilansir ke media online hanya tidak beroperasi pada pekan ke tiga dan pekan ke empat bulan Oktober 2021,” katanya.

Ia menegaskan jika penghentian operasional itu dilakukan secara resmi, pihak Citilink pasi mengoordinasikannya dengan pihak pengelola.

“Jika menghentikan pastinya akan ada konfirmasi ke pihak Angkasa Pura II (Persero),” tukasnya.

Sebelumnya, hal senada juga disampaikan VP Corporate Communication Angkasa Pura II, Yado Yarismano mengatakan bahwa bandara JB Soedirman masih beroperasi dengan optimal.

“Untuk bandara JB Soedirman masih tetap beroperasi,” katanya kepada Liputan6.com, Senin (25/10/2021).

Kendati demikian, terkait data jumlah peningkatan atau penurunan penumpang di bandara tersebut, ia menyerahkan ke maskapai penerbangan yang beroperasi.

“Terkait penerbangannya bisa di konfirmasi ke maskapai ya,” kata dia.

Informasi, bandara JB Soedirman tengah menjadi perbincangan setelah Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio mengunggah pernyataan tak bisa mendapati tiket penerbangan Citilink dari bandara tersebut.

Bahkan, ia menyebut menurut konfirmasinya ke Citilink, bahwa maskapai tersebut menyetop operasinya sementara waktu.

Hingga berita ini ditulis, tim Liputan6.com tak kunjung mendapatkan keterangan lebih lengkap dari Corporate Communication Citilink, Rizky Ahmad Syahbana.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sepi Penumpang

AP II telah tuntas melakukan pembangunan fasilitas utama sisi udara (airside) Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga. (dok: AP II)
AP II telah tuntas melakukan pembangunan fasilitas utama sisi udara (airside) Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga. (dok: AP II)

Dalam kesempatan terpisah, Agus Pambagio menyoroti pengembangan potensi bisnis di sekitar bandara Jenderal Besar Soedirman agar banyak orang yang memanfaatkan bandara tersebut. Hal ini menindaklanjuti maskapai Citilink yang menghentikan operasi sementara di bandara tersebut.

Sebelumnya Agus menulis di akun Facebook-nya bahwa Citilink berhenti beroperasi sementara di bandara JB Soedirman. Hal itu ia ketahui setelah mencoba membeli tiket dari bandara tersebut, namun tak mendapatkannya.

Atas persoalan tersebut, Agus menilai bahwa minimnya penumpang yang memanfaatkan penerbangan dari dan ke bandara JB Soedirman terbilang minim. Sehingga berimbas pada pemberhentian operasi sementara oleh maskapai Citilink.

“Harus dibangun potensinya agar ada orang yang mau kesana. Sehingga bisa menarik orang (penumpang),” katanya saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin (25/10/2021).

Ia menuturkan, misalnya dengan membangun potensi perekonomian seperti perkebunan atau potensi industri di wilayah Purbalingga.

“Harus diupayakan manusia yang terbang kesana, misalnya dibangun industri atau perkebunan, supaya jadi ada yang kesitu, menimbulkan pertumbuhan ekonomi disitu,” katanya.

Selain itu ia juga menyinggung ada kesalahan dari Feasibility Study atau studi kelayakan proyek yang dibentuk.

“Apakah itu ada industri perkebunan ada atau tidak, nah feasibility study tadi bagaimana, itu dihentikan karena tak ada penumpang, yaitu itu harus ada bukan cuma salah citilink,” katanya.

Terkait kajian tersebut, Agus mengatakan pembangunan suatu bandara perlu melalui kajian yang menyeluruh. Misalnya dalam kajian tersebut harus dihitung terkait potensi penumpang yang akan menggunakan fasilitas bandara tersebut.

“kan harus dikaji, bangun bandara bukan bangun secara politis, pesawat gak bisa kesitu kalau hanya diperintah regulator, tapi harus ada penumpangnya,” tegasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel