Co-Sherpa G20 : kapal G20 harus terus berlayar meski ada badai

Co-Sherpa G20 Edi Prio Pambudi mengatakan bahwa kapal G20 harus terus berlayar dengan damai meskipun ada badai dan harus menghadapi gelombang tantangan untuk meraih tujuan bersama.

Dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu, Edi yang juga Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian menyampaikan bahwa Pertemuan Sherpa ke-2 menjelaskan perkembangan pembahasan semua isu yang berada di bawah naungan Sherpa Track yang meliputi 11 kelompok kerja dan 1 inisiatif dengan highlight Sherpa Sofa Talk di atas kapal.

“Pertemuan ini sesuai dengan kekuatan G20 yang terdiri dari dialog Informal yang pada awalnya dibuat sebagai mekanisme diskusi dengan bahasa informal dan Inklusif karena mementingkan menjaga suasana komunikasi yang baik meskipun masing-masing bisa menyiapkan sesuai persepsinya,” ujar Deputi Edi.

Baca juga: Kelompok Kerja Anti-Korupsi G20 hasilkan "high-level principle"

Sherpa Sofa Talk menjadi suatu kegiatan yang khas dan unik dalam Presidensi G20 Indonesia. Kapal tersebut memiliki nama Lako Sae yang artinya menurut warga setempat adalah berjalan dengan damai. Makna tersebut selaras dengan harapan Indonesia untuk pelayaran kapal G20 untuk menuju tujuan yang sama dengan damai.

Pada saat acara di kapal sedang berjalan, cuaca memburuk di luar ekspektasi sehingga lokasi pertemuan dipindah ke lantai bawah dari yang tadinya di atas dek kapal. Deputi Edi mengutip komentar seorang delegasi yang menganalogikan peristiwa tersebut bagaikan perjalanan para Delegasi G20 yang meski banyak tantangannya, namun tetap harus beradaptasi dengan situasi dan berkomunikasi agar sampai ke tujuan yang diharapkan.

“Ternyata dalam perjalanan ada badai, yang tadinya teratur menjadi bebas. Tetapi yang penting tetap semuanya saling berbicara. Kita berhasil membawa semua delegasi ke tempat tujuan kita, bahkan di akhir pembahasan sudah mulai terlihat pilihan solusinya,” tutur Deputi Edi.

Edi menjelaskan bahwa sesuai arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kepercayaan dan saling menghormati antar anggota G20 sangat penting dalam memajukan dialog dan konsensus dan tugas Sherpa adalah memastikan terciptanya lingkungan kondusif.

“Harapan kita ke depan mudah-mudahan bisa menyelesaikan pembahasan draft communique, sebuah pernyataan yang mengandung sinyal political will. Presidensi dianggap berhasil kalau bisa melahirkan banyak konsensus,” lanjutnya.

Baca juga: Delegasi 2nd Sherpa Meeting disajikan keragaman Indonesia

Adapun Presidensi G20 Indonesia mengenalkan pendekatan baru dalam perancangan output G20 yakni penambahan concrete deliverables yang didukung semua negara. Hal tersebut akan bisa melengkapi draft communique dan menjadi sesuatu yang memiliki manfaat nyata.

Terkait situasi geopolitik dunia yang berubah drastis akibat perang di Ukraina, Edi mengungkapkan bahwa G20 adalah kesempatan untuk mulai menemukan titik terang bagi diplomasi internasional, serta ditekankan pula pentingnya perspektif yang melihat ke depan.

“Isu utama adalah bagaimana kita bertemu dalam satu kata. G20 adalah forum multilateral yang menghormati hukum internasional, sehingga banyak yang perlu dipertimbangkan, tetapi kunci utamanya tetap dialog. Kita akan bahas lagi dengan semua pihak, karena bagaimana kita mencari solusi kalau tidak ada komunikasi? Lebih baik semuanya berkumpul,” tutur dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel