CORE: Beberapa Program PEN perlindungan sosial perlu dievaluasi

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan realisasi Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang maksimal khususnya pada perlindungan sosial mampu mendorong perbaikan ekonomi kuartal III.

“Hal ini (perbaikan ekonomi kuartal III) saya kira tidak terlepas dari realisasi Anggaran PEN khususnya belanja perlindungan sosial yang sudah cukup besar sejauh ini,” katanya kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Yusuf menuturkan terdapat beragam kelompok pendapatan yang memperoleh bantuan perlindungan sosial tersebut sehingga cukup efektif dalam mendorong perbaikan ekonomi.

Baca juga: Presiden: Tren membaik, pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3 persen

Ia menyebutkan untuk kelompok pendapatan bawah, pemerintah mengalokasikan bantuan berupa Program Keluarga Harapan (PKH), sedangkan bagi kelompok menengah bantuan diberikan melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Kemudian, lanjut dia, pemerintah turut memberikan bantuan bagi masyarakat korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun belum bekerja melalui program Kartu Pra Kerja.

Menurutnya, realisasi program perlindungan sosial telah mampu mendorong konsumsi masyarakat pada kuartal III yang berimplikasi pada perbaikan ekonomi meskipun berjalan lambat.

Baca juga: CORE prediksikan ekonomi RI triwulan III terkontraksi 3 persen

Ia mengatakan perbaikan yang berjalan lambat bisa dilihat pada pertumbuhan indeks penjualan riil pada Agustus yang mencapai minus 9 persen sehingga patut menjadi perhatian jika pemerintah ingin mendorong perbaikan konsumsi kuartal IV.

Tak hanya itu, Yusuf mengingatkan kepada pemerintah bahwa meskipun realisasi perlindungan sosial sudah relatif baik tetapi masih ada beberapa evaluasi yang perlu dilakukan.

“Perlu diakui masih ada beberapa bahan evaluasi dalam Program PEN perlindungan sosial ini,” tegasnya.

Ia mencontohkan program dalam perlindungan sosial yang masih perlu dievaluasi adalah Kartu Pra Kerja, karena masih ada penerima yang gagal mencairkan bantuannya karena ketidaktahuan informasi.

Baca juga: Bahana: Aliran modal asing tertahan, menunggu hasil Pilpres AS

“Hal yang sama juga ditemui dalam pemberian subsidi gaji yaitu pekerja yang gagal mendapatkan bantuan ini karena beragam masalah,” katanya.

Meski demikian, Yusuf memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III akan bergerak ke arah yang lebih baik dibandingkan kuartal II melalui maksimalnya realisasi belanja perlindungan sosial tersebut.

“Saya kira kita bisa sepakat pertumbuhan ekonomi bergerak ke arah yang lebih namun masih berada di level negatif,” ujarnya.

Adapun realisasi Anggaran PEN untuk perlindungan sosial adalah sebesar Rp167,08 triliun dari total Rp203,9 triliun hingga 14 Oktober 2020.

Baca juga: IHSG ditutup melambung di zona hijau, ikuti penguatan bursa global