CORE: Digitalisasi bisa ubah karakteristik usaha mikro dan kecil

·Bacaan 2 menit

Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan ekosistem digital mampu merubah karakteristik usaha mikro dan kecil di masa depan.

“Merujuk hasil survei CORE, ada potensi perubahan karakteristik usaha mikro dan kecil di masa depan yang tidak bankable, sangat berisiko, dan tidak memiliki collateral tambahan,” kata Piter dalam diskusi "Peran Perbankan Dalam Ekosistem Digital UMKM Masa Depan" secara daring, Kamis.

Piter menyampaikan karakteristik usaha mikro dan kecil pada saat ini, menyebabkan usaha kesulitan mendapatkan akses ke pembiayaan formal sehingga pelaku usaha sulit berkembang. Namun jika pelaku usaha mikro dan kecil mau dan mulai terlibat dalam ekosistem digital, ia memperkirakan usaha mikro dan kecil akan semakin berkembang berkontribusi lebih banyak dalam PDB dan pelibatan jumlah tenaga kerja.

CORE melakukan survei kepada 2.001 responden yang tersebar di 8 provinsi dan 12 kota dengan 77 persen respon berada di Pulau Jawa untuk mengetahui dampak digital payment terhadap UMKM. Hasil survei menunjukkan digital payment mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan pada skala usaha nano dan mikro.

“85 persen usaha nano dan mikro yang sebelumnya tidak memiliki akun bank mulai mengenal produk perbankan setelah bergabung dengan digital payment,” ujar Piter.

Digital payment, lanjutnya, mendorong transformasi digital UMK dalam menjalani usaha. Penggunaan digital payment juga semakin mendorong tumbuhnya pengusaha muda.

“97 persen pemilik UMK yang memulai usahanya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah Gen X, milenial, dan Gen Z,” tuturnya.

Tak hanya itu, hasil survei CORE juga mengatakan bahwa digital payment membantu peningkatan usaha nano dan mikro. Sebanyak 61 usaha nano dan mikro mengalami peningkatan transaksi harian di atas 10 persen setelah bergabung dengan digital payment. Bahkan 63 persen usaha nano dan mikro mengalami peningkatan pendapatan bulanan di atas 10 persen setelah bergabung dengan digital payment.

“Digital payment memperkuat daya tahan UMK selama pandemi, 84 persen UMK terbantu digital payment saat pandemi COVID-19,” kata Piter.

Lebih lanjut ia mengatakan potensi industri digital di masa depan akan semakin terbuka lebar setelah adanya merger unicorn, seperti Gojek dan Tokopedia. Merger tersebut membuka peluang masuknya investasi di industri digital, termasuk digital payment.

Baca juga: Kemendag: Tahun ke-2 BBI 14 juta UMKM gabung di perdagangan elektronik
Baca juga: Literasi digital dorong produktivitas di sektor ekonomi digital
Baca juga: Sistem pembayaran digital motor utama digitalisasi UMKM

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel