Corona Covid-19 Tunda Olimpiade, Herry IP Susun Program Baru untuk Ganda Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi virus Corona penyebab Covid-19 membuat Olimpiade 2020 ditunda setahun. Keputusan ini tidak pelak memengaruhi persiapan atlet.

Termasuk pejuang Tanah Air, khususnya dari cabang olahraga bulu tangkis yang berpotensi menyumbang emas.

Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi pun menyusun program baru untuk anak asuhnya, yakni Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Begitu pula bagi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang menjadi pelapis.

"Kalau dilihat dari performa, memang dua ganda putra kita khususnya Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan sedang di peak performance. Mereka ada di rangking satu dan dua dunia dan ini sangat menguntungkan untuk pengundian di Olimpiade," kata Herry dilansir Badminton Indonesia.

"Akan ada susunan program baru, khususnya untuk Hendra/Ahsan yang sudah senior, semakin bertambah usia kan stamina semakin menurun, ini yang harus dijaga. Program khusus ada, tapi sekarang belum bisa dibicarakan karena masih terkendala libur karena Corona," sambungnya.

Herry tak menampik program yang sebelumnya dia susun untuk Olimpiade harus disesuaikan lagi dengan situasi dan kondisi menyusul pandemi virus Corona.

"Memang sudah disiapkan untuk peak-nya di bulan Juli ini, tapi keadaannya seperti ini. Saya rasa (keputusan Olimpiade ditunda) kan demi kebaikan bersama," ujar Herry.

Benahi Kekurangan

Pelatih Ganda Putra Indonesia, Herry IP dan Aryono Miranat, memberikan arahan kepada Fajar Alfian/Muhammad Rian, pada laga Indonesia Masters di Istora, Jakarta, Rabu (15/1/2020). Fajar/Rian menang 21-19, 16-21, dan 21-13. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Waktu setahun ke depan akan dimanfaatkan Herry untuk mengevaluasi performa tim ganda putra. Khususnya pasca kekalahan beruntun yang dialami Kevin/Marcus atas ganda putra Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Ganda putra rangking lima dunia ini juga memupuskan harapan Hendra/Ahsan untuk pertahankan gelar di All England 2020.

"Namanya di pertandingan, banyak faktor yang menentukan seorang pemain bisa jadi juara. Tim kami harus latihan lagi, banyak evaluasi, memang kemarin kalah tapi harus dilihat bagaimana kalahnya, proses ini yang lebih penting untuk pembelajaran," kata Herry.

"Selain cari celah kelemahan lawan, kita juga cari cara untuk perbaiki apa yang jadi kelemahan kita. Tapi kita juga jangan terlalu fokus ke satu lawan saja, masih banyak lawan yang lain yang juga harus diwaspadai," lanjutnya.

Kompetisi Jeda

All England 2020 pada Maret lalu menjadi turnamen terakhir yang diikuti pebuluangkis elite menyusul pandemi virus Corona. Sejauh ini kompetisi ditangguhkan hingga akhir Mei.