Corona COVID-19 Ubah Tradisi Selama Bulan Ramadan di Maroko

Liputan6.com, Maroko - Ketika Maroko menerapkan lockdown lantaran Corona COVID-19 pada 20 Maret, beberapa yakin bahwa kehidupan akan kembali normal pada bulan Ramadan.

Namun, itu semua sepertinya tidak akan terjadi. Sebab, sejak minggu lalu pemerintah memperpanjang masa lockdown hingga 20 Mei, yang berarti terjadi di bulan Ramadan.

"Huh, kami tidak akan pacaran dengan gadis-gadis setelah berbuka puasa tahun ini," ujar seorang pemuda.

Saat itulah banyak yang sadar jika virus ini mengubah banyak hal yang ada di Maroko. Sepanjang tahun, pilihan kehidupan malam di Maroko terbatas pada pub, klub malam, dan sangat sedikit restoran yang tetap buka hingga pukul 11 ​​malam.

Meski demikian, saat bulan puasa seperti ini hampir semua restoran dan kafe tetap buka sampai subuh.

Sebab, kafe tutup pada siang hari karena puasa, malam hari. Selama sebulan penuh, menjadi budaya bersama untuk keluar di malam hari dan tetap di luar sampai subuh. Namun, banyak warga yang dilarang keluar malam, selain membeli makanan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, banyak anak muda yang mengunjungi kafe pada malam hari di bulan Ramadan untuk berbincang-bincang.

Bahkan ada pula yang sengaja mencari jodoh. Dengan adanya larangan keluar malam ini, aktivitas berkumpul tidak ada meski kafe tetap buka.

"Sejujurnya aku mengakui bahwa aku sendiri adalah anak muda yang suka berpesta, tetapi aku merasa akan menyenangkan jika memiliki pilihan acara malam keluarga sepanjang tahun. Ternyata, tidak ada pilihan selama pandemi global," ujar seorang anak muda.

Pertemuan Keluarga

Selain tradisi berkumpul para anak muda, hal lain yang juga turut berubah adalah pertemuan keluarga besar saat Ramadan dan hari raya.

Meski hari raya belum terjadi di tahun 2020, namun banyak yang sudah khawatir jika virus ini masih merajalela dan menggagalkan semuanya.

Setidaknya sekali seminggu selama bulan suci Muslim, orang Maroko mengunjungi keluarga mereka dan orang-orang terkasih untuk berbuka puasa.

Lockdown dan masa karantina adalah alasan mengapa interaksi fisik sekarang telah dikurangi.

Doa ke Masjid

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Selain itu, ada pula tradisi lain yang dilakukan banyak muslim di Maroko. Tradisi itu adalah pergi ke masjid untuk berdoa.

Memaksimalkan hubungan antara manusia dan Allah SWT selama bulan Ramadan. Di tahun-tahun sebelumnya, masjid-masjid menampung banyak gelombang orang yang hendak berdoa selama bulan Ramadan, terutama saat salat malam.

"Saya ingat ibu saya pernah membawa saya bersama selama Ramadan untuk berdoa di masjid," ujar seorang warga di Maroko.

"Kami pergi lebih awal dan memilih tempat di atap masjid untuk merasakan angin sepoi-sepoi. Itu menarik, melelahkan, dan menenangkan. Memikirkan bahwa bulan Ramadan ini akan berlalu tanpa doa yang serupa seperti tahun-tahun sebelumnya."

Simak video pilihan berikut: