Corona Serang Wali Kota, RS Lapangan Malang Dikebut 10 Hari Kelar

Hardani Triyoga, Lucky Aditya (Malang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Penyebaran kasus COVID-19 di Kota Malang, Jawa Timur, semakin luas. Jumlah kasus terkonfirmasi positif telah dua ribu lebih.

Situasi tersebut membuat Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyetujui pembangunan Rumah Sakit lapangan di Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma). Terlebih sejumlah rumah sakit menyatakan ruang isolasi mereka penuh.

Paling anyar, terjadi kekhawatiran klaster Balai Kota Malang. Wali Kota Malang, Sutiaji bersama istri dan anak dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19.

Pemkot Malang langsung melakukan rapid test massal sebanyak dua kali. 15 aparatur sipil negara (ASN) dinyatakan reaktif dan terindikasi COVID-19.

Wakil Direktur (Wadir) III Bidang Kemahasiswaan Polkesma, Ganif Djuwadi, mengatakan Pemprov Jatim diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Heru Tjahjono pada Selasa 1 Desember 2020, telah meninjau langsung lokasi.

Baca Juga: Inggris Kembangkan Tes COVID-19 Baru, Lebih Efektif Dibanding Swab

Dari hasil kunjungan itu, diputuskan Rumah Sakit lapangan dikebut agar cepat rampung. Targetnya, dioperasikan 10 hari lagi.

"Ini persiapan untuk RS lapangan targetnya dari Pemprov Jatim, 10 hari sudah harus jadi untuk renovasi (penyediaan bed isolasi). Nanti akan ada pembahasan lagi setelah renovasi. Pembahasan berkaitan dengan struktur pengelolaannya, sarana dan prasarananya, termasuk dengan usulan tenaga kesehatan dan relawan," kata Ganif, Rabu, 2 Desember 2020.

Rencananya, RS Lapangan akan berjumlah 306 kasur isolasi. Pihak Polkesma hanya menyediakan tempat untuk RS Lapangan. Sedangkan, penyedia peralatan medis, tenaga medis hingga teknis pengoperasian disiapkan oleh Pemprov Jatim.

"Kami hanya menyediakan fasilitas tempat, kemudian sarana yang bisa digunakan. Terkait tenaga relawan medis nanti dari Polkesma bisa membantu. Karena kami yang punya tempat (pembangunan RS lapangan)," ujar Ganif.

Kurangi Beban
Sementara itu, pengelola Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang menilai pembangunan RS lapangan tersebut bisa mengurangi beban penanganan COVID-19 di RSSA. Mereka akan bertugas sebagai pengampu yang bertanggung jawab atas pengoperasian RS Lapangan. Sebab, RSSA merupakan rumah sakit milik Pemprov Jatim.

"Pada intinya kami sebagai pengampu ya support akan adanya RS lapangan baik itu tenaga medis maupun fasilitas kesehatan. Kami mendukung sepenuhnya kebijakan dari Pemprov Jatim," tutur Kassubag Humas RSSA Kota Malang, Donny Iryan.

Jumlah kasur di ruang isolasi RSSA Malang saat ini penuh. Sebanyak 83 kasur itu terisi semuanya, bahkan begitu satu pasien pulang pasien lainnya telah mengantre. Tingkat okupansi ruang isolasi COVID-19 di RSSA penuh 100 persen.

Donny mengatakan, untuk pasien dengan gejala berat yang mengantre masuk ke ruang isolasi terpaksa transit terlebih dulu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Dia memastikan meski ruang isolasi penuh RSSA Malang tidak menolak pasien COVID-19.

"Kalau di RSSA sendiri memang saat ini, kondisi ruang isolasi sedang penuh. Cuma di IGD kami masih bisa terima pasien yang darurat. Nanti kalau memang ada pasien yang sudah dipulangkan, kami sterilisasi lalu pasien (dari IGD) kami masukan lagi," kata Donny. (ren)