COVID-19 Bikin Orang Abaikan Kondisi Kesehatan Gigi dan Mulut

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 4 menit

VIVA – Di masa pandemi COVID-19, konsumsi asupan manis dan asam semakin meningkat. Sayangnya, hal ini tidak diiringi dengan peningkatan kebiasaan merawat gigi dan mulut, bahkan kebiasaan mengunjungi dokter gigi juga semakin menurun.

Survei terbaru yang dirilis hari ini oleh GSK Consumer Healthcare bekerjasama dengan perusahaan riset IPSOS, menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 berdampak terhadap kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Survei dilakukan kepada 4.500 partisipan yang berusia diatas 18 tahun dan berasal dari 5 Negara Eropa (Perancis, Jerman, Britania Raya, Spanyol, dan Rusia) dan 4 Negara Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Singapura, dan Thailand). Berikut adalah beberapa temuan utama dari penelitian untuk konsumen Indonesia.

Lewat rilis yang diterima VIVA, dari hasil survei ini diketahui, hampir semua konsumen Indonesia menyadari rendahnya kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental, tetapi mereka belum melakukan upaya yang maksimal untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

9 dari 10 konsumen Indonesia percaya bahwa perawatan kesehatan mulut dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Ketika ditanyakan lebih lanjut, 68 persen responden percaya bahwa kesehatan mulut dapat mengurangi risiko pengembangan penyakit kardiovaskular, 81 persen meyakini ada dampak positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang, dan 55 persen juga percaya bahwa perawatan kesehatan mulut yang baik memiliki dampak yang positif yakni mengontrol kadar gula darah dan mencegah diabetes.

Meskipun mayoritas konsumen Indonesia telah menyadari dampak langsung dari kurangnya perawatan gigi dan mulut, survei menyarankan bahwa para konsumen belum secara maksimal merawat kesehatan gigi dan mulut mereka sehingga justru dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental.

Dari keseluruhan konsumen di Indonesia yang saat ini setidaknya memiliki satu masalah kesehatan gigi dan mulut, hanya sebanyak 31 persen yang menggunakan produk kesehatan khusus untuk perawatan gigi dan mulut, dan hanya 6 persen konsumen yang secara aktif dan rutin memeriksa kondisi kesehatan gigi dan mulut atau membersihkan gigi ke dokter. Padahal, 82 persen konsumen memiliki gigi sensitif dengan 74 persen di antaranya merasakan ketidaknyamanan saat makan atau minum. Hal ini juga menunjukkan bahwa konsumen Indonesia masih abai terhadap pentingnya merawat gigi dan mulut meski memiliki setidaknya satu masalah gigi dan mulut.

Sikap abai yang berkelanjutan ini dapat beresiko bagi kesehatan fisik dan mental yang sebenarnya dapat dicegah dan diatasi.

Keith Choy, Region Head, Asia Pacific, GSK Consumer Healthcare mengatakan, “Pandemi COVID-19 telah mengubah cara kita beraktivitas sehari-hari dan merawat diri. Kami senang melihat semakin banyak masyarakat yang sudah sadar tentang dampak berkepanjangan dari tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut," katanya lewat rilis yang diterima VIVA.

Namun, katanya, masih banyak yang harus kita lakukan. Perawatan gigi dan mulut dan yang baik dan teratur sangat penting untuk kesehatan dalam jangka panjang.

Ragu ke Dokter Gigi

Selain abai akan kesehatan gigi dan mulut, survei juga mengungkap, COVID-19 membuat konsumen semakin ragu untuk pergi ke dokter gigi.

Ketika ditanyakan kemungkinan akan mengunjungi dokter gigi di waktu mendatang, sebanyak 70 persen konsumen Indonesia mengaku khawatir dan tidak yakin resiko penularan virus corona sudah bisa diminimalisir.

Dari seluruh responden yang mengaku khawatir atau cukup khawatir mengunjungi dokter gigi, 46 persen merasa takut akan banyaknya orang yang berkunjung sehingga sulit untuk tetap menjaga jarak dengan pengunjung lain. Survei menunjukkan bahwa 63 persen konsumen berpikir adanya kemungkinan penularan COVID-19 yang tinggi dari peralatan gigi yang digunakan; 41 Persen juga menunjukkan keragu-raguan akan kebersihan klinik gigi.

Meskipun terdapat kekhawatiran akan ketidakpastian rentannya penyebaran COVID-19 di klinik gigi, konsumen tidak serta merta mencari alternatif untuk merawat kesehatan gigi dan mulut mereka.

Fakta ini didukung dengan hanya 40 persen yang menggosok gigi lebih sering dibandingkan sebelum pandemi. Meskipun terdapat peningkatan konsumsi makanan dan minuman yang berpengaruh negatif terhadap kesehatan gigi dan mulut, 59 persen konsumen Indonesia justru menyatakan tidak ada perbedaan frekuensi menggosok gigi baik sebelum maupun selama pandemi. Namun demikian, survei menunjukkan sebanyak 32 persen konsumen mengaku lebih banyak mengkonsumsi obat kumur apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelum pandemi.

“Perawatan gigi dan mulut akan mempengaruhi rasa percaya diri dan juga kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Beberapa perawatan bisa dilakukan secara mandiri, seperti: membatasi konsumsi gula tambahan kurang dari 6 sendok teh per hari; mengurangi konsumsi makanan asam; dan melakukan rutinitas perawatan diri sehari-hari misalnya penggunaan produk khusus saat menyikat gigi untuk merawat gigi sensitif,” Prof. Dr. drg. Chiquita Prahasanti, Sp.Perio(K), Guru Besar Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga-Surabaya, Ketua Kolegium Periodonsia Indonesia.

Meski demikian, peran ahli juga mutlak diperlukan sebab dokter gigi berperan dalam rutinitas perawatan mulut yang baik dan menyeluruh. Sekalipun di tengah pandemi dengan pembatasan aktivitas tatap muka di negara kita, peran dokter gigi dan pentingnya mengunjungi dokter gigi secara teratur tidak boleh diabaikan.

“Masyarakat dapat menggunakan pelayanan dokter gigi jarak jauh atau tele-dentistry untuk mendapatkan perawatan dari para ahli,” tambah Prof. Dr. drg. Chiquita Prahasanti.