COVID-19 Bukan Senjata Biologi China, Tapi Waspadalah Taktik Teroris

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah

VIVA – Wabah COVID-19 bukan senjata biologi China. Akan tetapi waspadalah taktik teroris yang 'memetik pelajaran berharga' selama pandemi Virus Corona.

Menurut Guru Besar Akademi Sains Nasional Ukraina, Sergiy Komisarenko, negeri Tirai Bambu tidak mungkin menciptakan COVID-19 senjata biologi karena ilmuwan mereka harus bekerja sama dengan ilmuwan dari negara lain untuk menciptakannya.

"Mereka (China) menciptakan senjata biologi dari COVID-19 adalah sesuatu yang tidak dapat dibayangkan. Jadi, menurut saya, COVID-19 bukan virus yang diciptakan. Apalagi sama China," ungkapnya, seperti dikutip dari situs Newseu.Cgtn, Senin, 15 Juni 2020.

Baca: COVID-19 adalah Senjata Biologi

Sergiy juga menegaskan bahwa China bukanlah yang menciptakan COVID-19. Meski ia mengakui jika negara itu memiliki laboratorium virologi sangat canggih di Wuhan, di mana Virus Corona berasal.

"Itu benar (laboratorium virologi canggih di Wuhan). Mengapa? Karena, wabah pertama yang sangat berbahaya dari virus ini ada di China tahun 2002, yaitu SARS. Dan, ada ide internasional untuk membuat lembaga penelitian canggih di China yang akan mencari obat penawar SARS dan kemungkinan wabah selanjutnya akibar infeksi Virus Corona," jelas dia.

Sergiy menuturkan jika laboratorium tersebut berisi ilmuwan dari Prancis, Amerika Serikat (AS) dan Australia, selain China. Dengan begitu, sangat mustahil kalau China sendirian tiba-tiba dituduh menciptakan senjata biologi.

"Sangat tidak mungkin Anda membuat senjata biologi sendirian, apalagi bekerja sama dengan para ilmuwan dari berbagai negara. Itu tidak mungkin sama sekali," tegasnya.

Sementara itu, para ahli keamanan dari Uni Eropa mengingatkan adanya ancaman senjata biologi akibat pandemi COVID-19. Mereka lebih menekankan kepada waspada tingkat tinggi terhadap aksi terorisme yang diduga akan memakai senjata biolgi untuk menyerang.

"Kami telah mengeluarkan peringatakan atas potensi peningkatan penggunaan senjata biologi, seperti virus atau bakteri, di dunia usai pandemi COVID-19 berakhir. Para teroris tidak akan melupakan 'pelajaran yang dipetik' selama pandemi ini," demikian keterangan resmi Komite Anti Terorisme Dewan Keamanan Uni Eropa, seperti dikutip dari Deutsche Welle.

Sebelumnya, ada ‘wabah’ yang menyebar sama cepatnya dengan virus di masa pandemi COVID-19 ini. Wabah itu adalah teori konspirasi. Dalam survei yang digelar baru-baru ini, sebanyak 26 persen warga Kanada percaya bahwa COVID-19 merupakan senjata biologi. Sementara 11 persen percaya bahwa penyebarannya didorong oleh teknologi 5G.

Para penganut teori konspirasi ini bukan lagi sekadar bapak-bapak nyentrik yang mencurigai tamu di rumah tetangga Anda ialah agen rahasia dalam penyamaran. Mereka, sekarang, adalah penyebar pengetahuan yang mengancam kesehatan publik.