COVID-19 dan Naiknya Kemiskinan Buat Ketimpangan di RI Melebar

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat yang diukur dengan Gini Ratio meningkat. Kondisi itu seiring dengan naiknya jumlah penduduk miskin pada September 2020.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan Gini Ratio pada bulan itu sebesar 0,385. Angka ini meningkat 0,005 poin dibandingkan dengan Gini Ratio pada September 2019 yang sebesar 0,380.

Dia menekankan, sejak September 2014 yang sebesar 0,414, Gini Ratio terus mengalami penurunan dari tahun ke tahunnya, meski pada September 2018 ke September 2019 tetap angkanya. Tapi, September 2020 naik lagi.

Naiknnya Gini Ratio, ditegaskannya, seiring dengan kenaikan jumlah orang miskin pada September 2020 yang bertambah 2,76 juta orang menjadi 27,55 juta. Pada September 2019, jumlahnya 24,79 juta orang.

"Seiring dengan kenaikan penduduk miskin, demikian juga Gini Ratio di level nasional," kata dia saat konferensi pers, Senin, 15 Februari 2021.

Suhariyanto merincikan, berdasarkan tempat tinggal, Gini Ratio perkotaan pada September 2020 lebih besar dibanding pedesaan. Gini Ratio di perkotaan adalah 0,399 sedangkan pedesaan 0,319.

"Peningkatan baik di kota dan di desa. Untuk dijadikan catatan, Gini Ratio angkanya diantara 0 dan 1. Kalau mendekati 1 ketimpangannya semakin tinggi," tegas dia.

Dirincikannya lebih jauh, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah sebesar 17,93 persen. Berarti ada pada kategori ketimpangan rendah karena di atas indikator Bank Dunia sebesar 17 persen.

Jika dibedakan menurut daerah, pada September 2020 persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di perkotaan adalah 17,08 persen sedangkan di pedesaan 20,89 persen.

Pada bulan itu, peningkatan Gini Ratio tertinggi terjadi di Kalimantan Selatan yang naik 0,017 poin menjadi 0,351. Sedangkan penurunan tertinggi di Maluku Utara sebesar 0,020 poin menjadi 0,326.

Adapun Gini Ratio di Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Suhariyanto mengatakan, pada September 2020 sebesar 0,400 dari sebelumnya pada September 2019 tercatat sebesar 0,391.