Covid-19 di Jatim Belum Terkendali, Sekolah Tatap Muka Perlu Dikaji

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Malang - Berbagai daerah di Jawa Timur mulai menyelenggarakan uji coba sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Para epidemiolog dan ikatan dokter anak merekomendasikan daerah dan sekolah tidak buru-buru mengambil kebijakan itu.

Kebijakan sekolah tatap muka harus mengutamakan kesehatan anak. Serta pertimbangan utama penyebaran Covid-19 di Jawa Timur belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Sewaktu-waktu dapat terjadi ledakan kasus baru.

Berdasar data Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI), ada sekitar 24.966 anak tertular Covid-19 atau 9,7 persen dari total kasus positif secara nasional. Terbagi dalam 2,4 persen usia di bawah 5 tahun dan 7,3 persen anak usia 6-18 tahun.

"Sudah seharusnya ada kajian ilmiah dulu sebelum menerapkan kebijakan pembelajaran tatap muka," kata Wakil Ketua PAEI Jawa Timur, Atik C Hidajah dalam diskusi daring 'Vaksin Covid-19 dan Kesiapan Anak Menjalani Pembelajaran Tatap Muka', yang digelar Rabu (18/11/2020).

Atik yang juga pengajar di Universitas Airlangga ini menyebut telah membuat prediksi penyebaran Covid-19 di Jawa Timur. Data mengacu pada angka kasus per 8 November. Diprediksi selama 9 November - 8 Desember 2020, kasus harian bisa sebanyak 271 kasus.

"Artinya masih mengkhawatirkan. Bila daerah menginginkan pembelajaran tatap muka, maka kalau dari epidemiologi berpendapat sekolah memberlakukan itu bila ada di daerah zona kuning," ujar Atik.

Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di provinsi ini ada sebanyak 1.080 sekolah jenjang SMA/SMK/SLB dari total 4.089 lembaga yang dibuka untuk menjalani tahap uji coba sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda akan berakhir.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Masih Berisiko

Suasana sekolah tatap muka di SDIT Nurul Amal, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Senin (16/11/2020).  Proses belajar secara tatap muka atau luring ini menggunakan waktu belajar di sekolah yang didasarkan pada zona  penerapan wilayah covid-19. (merdeka.com/Arie Basuki)
Suasana sekolah tatap muka di SDIT Nurul Amal, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Senin (16/11/2020). Proses belajar secara tatap muka atau luring ini menggunakan waktu belajar di sekolah yang didasarkan pada zona penerapan wilayah covid-19. (merdeka.com/Arie Basuki)

Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, Endah Setyarini mengatakan, pengurus pusat organisasinya merekomendasikan kepada sekolah tak buru-buru menggelar pembelajaran tatap muka.

"Sekolah tutup dulu selama pandemi, apalagi selama satu daerah itu belum masuk kategori zona hijau," kata Endah.

Akan sangat berisiko bila sekolah memaksa ada tatap muka. Apalagi bila belum ada sebuah kajian berupa pemetaan kasus positif di setiap desa dan kelurahan. Serta memetakan lokasi sekolah sampai domisili siswa.

"Transportasi atau perjalanan siswa itu patut diperhatikan. Kontak antara siswa, guru dan orang lain bisa sangat berisiko tinggi," ujar Endah.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto menyebut kebijakan pembelajaran tatap muka tidak bisa dihindari. Namun semua harus mematuhi protokol kesehatan.

"Ada hasil penelitian yang mengkhawatiran, anak akan kehilangan kecerdasan akibat pandemi ini," kata Andriyanto.

Adriyanto menambahkan, salah satu dampak lain selama pandemi ini yang mengkhawatirkan adalah masalah pemenuhan gizi pada anak. Penyebabnya faktor ekonomi seluruh kelompok masyarakat mulai kelas bawah sampai kelas atas.

Simak juga video pilihan berikut ini: