COVID-19 Mengubah Cara Belajar Anak Zaman Now, Semuanya Lewat Platform

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah

VIVA – Berdasarkan laporan Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO, Virus Corona COVID-19 menyebabkan hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa mendatang.

Harus diakui wabah Corona mengubah aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk sektor pendidikan. Seruan pemerintah untuk belajar di rumah atau kelas online membuat sekolah dan lembaga pendidikan harus mengalihkan pembelajaran dari kelas ke ranah digital.

Tak ayal, keputusan pemerintah dinilai cukup membuat para orangtua kerepotan. Karena, selain harus tetap mengerjakan tugas kantor, orangtua juga mesti menjadi guru atau setidaknya memantau anak-anak agar tetap belajar.

Menurut pengamat pendidikan Budi Trikorayanto, orangtua harus mencari cara efektif untuk proses belajar di rumah, mengingat sebelumnya proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) dilakukan guru dan murid di sekolah.

"Orangtua sebenarnya juga harus dibimbing. Jadi belajar secara jarak jauh. Belajar mandiri itu harus berorientasi, terutama kepada minat dan bakat anak. Jadi bukan berorientasi pada standard kompetensi yang harus mereka lalui sesuai standard kurikulum. Bukan itu," kata dia, seperti dikutip dari Deutsche Welle, Selasa, 19 Mei 2020.

Anak sedang melakukan proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) online.

Budi juga menilai situasi dan kondisi pendidikan di tengah pandemi COVID-19 telah membuka mata banyak orang bahwa arah pendidikan harus menuju edukasi 4.0, yakni pendidikan jarak jauh yang tidak lagi terikat pada standar kurikulum, melainkan pengembangan minat dan bakat anak murid dan memerdekakan proses KBM.

"Jadi kita akan melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, yang memerdekakan belajar, dan membebaskan. Akan timbul kekacauan sebagai proses belajar dari perubahan itu, dan memang terus berlanjut. Namun demikian tuntutan zaman memang ke arah sana (edukasi 4.0)," jelas dia.

Hal senada diungkapkan Pendiri Kelas Pintar, Fernando Uffie. Ia melihat saat ini dunia sedang menghadapi masalah wabah sehingga memaksa skema pembelajaran, yang awalnya di ruang kelas diubah menjadi online.

"Ini adalah cara mereka mengintegrasikan ekosistem pendidikan ke digital tanpa menegasikan peran stakeholder, karena tujuannya adalah untuk menguatkan," katanya.

Untuk itu, ia meluncurkan fitur baru bernama 'Sekolah' di platform Kelas Pintar dalam menyambut Tahun Ajaran Baru 2020. Fitur ini memungkinkan aktifitas KBM dilakukan secara online yang sudah bisa dinikmati seluruh pengguna. Ada enam fitur turunan di platformnya, yaitu Kelas, Pekerjaan Rumah, Project, Ujian, Tugas, dan Monitoring.

"Lewat fitur ini guru bisa mengajar dengan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas, siswa bisa berinteraksi dengan guru sekolahnya, dan sekolah tetap menjadi tempat untuk guru dan siswa melakukan proses kegiatan belajar-mengajar," ungkap dia.

Layanan terbaru milik Kelas Pintar ini diklaim hadir sebagai solusi untuk guru dan murid agar bisa melakukan proses KBM melalui kelas online tanpa mengurangi interaksi yang selama ini telah terbangun, baik oleh guru, murid maupun orangtua akibat pandemi COVID-19.