COVID-19 Meningkat, Menkes India Imbau Warga Tak Panik

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, New Delhi - Menteri Kesehatan dan Layanan Kesejahteraan Keluarga India Lav Agarwal mengimbau masyarakat agar tidak "panik."

Ia menegaskan bahwa pemerintah melakukan semua yang bisa untuk menyediakan oksigen yang sangat dibutuhkan bagi pasien COVID-19 di seluruh negeri, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Selasa (27/4/2021).

India melaporkan rekor lonjakan penularan dan kematian dalam lima hari berturut-turut pada Senin (26/3), dengan 352.991 kasus baru dan sedikitnya 2.812 kematian.

Agarwal menambahkan, "Walaupun jumlah kasus yang dilaporkan lebih banyak, terdapat kabar positifnya juga, angka rata-rata kesembuhan meningkat. Kemarin, 219.272 orang telah sembuh."

Pasien di India kesulitan mengakses oksigen penyelamat hidup di rumah sakit di seluruh negara itu.

Pemerintah telah memerintahkan semua industri agar mengalihkan pasokan untuk keperluan medis.

Bantuan Oksigen AS ke India

Foto dari udara memperlihatkan proses pembakaran korban yang meninggal karena virus corona COVID-19 di tempat kremasi di New Delhi, India, Senin (26/4/2021). Setelah rumah sakit penuh dan kekurangan oksigen, kini India harus menghadapi penuhnya krematorium untuk kremasi jenazah. (Jewel SAMAD/AFP)
Foto dari udara memperlihatkan proses pembakaran korban yang meninggal karena virus corona COVID-19 di tempat kremasi di New Delhi, India, Senin (26/4/2021). Setelah rumah sakit penuh dan kekurangan oksigen, kini India harus menghadapi penuhnya krematorium untuk kremasi jenazah. (Jewel SAMAD/AFP)

Amerika Serikat berjanji akan mengirim bantuan oksigen ke India secepat mungkin sebagai tindakan untuk melawan pandemi virus corona COVID-19.

Amerika Serikat juga akan mengirim puluhan juta dosis vaksin ke luar negeri secara bertahap. Hal ini merupakan dorongan AS untuk memberi bantuan yang bermakna.

"Kami ingin membantu dalam kemitraan dengan India," kata Juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki kepada wartawan hari Senin 26 April.

"Kami berjanji untuk memberi bantuan yang mereka butuhkan, baik itu oksigen, APD, terapi, tes, atau bahan baku vaksin," demikian dikutip dari laman VOA Indonesia.

Sebanyak 60 juta vaksin AstraZeneca belum disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS.

Namun, dapat masuk ke negara lain secara bertahap setelah selesai menjalani pemeriksaan keselamatan federal, menurut Gedung Putih.

"Saat ini, kami tidak mempunyai vaksin AstraZeneca yang tersedia," kata Psaki, yang menjelaskan pengiriman vaksin untuk negara lain masih beberapa minggu lagi.

Pengiriman awal mungkin sebanyak 10 juta dosis.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden berbicara hari Senin (26/4) dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, dalam apa yang digambarkan oleh seorang pejabat senior pemerintahan sebagai "seruan yang hangat dan positif."

Modi mengatakan di Twitter, ia "menggarisbawahi pentingnya rantai pasokan bahan baku vaksin dan obat-obatan yang lancar dan efisien".

Ia menambahkan, kemitraan antara kedua negara dapat mengatasi tantangan dunia terhadap COVID-19.

Saksikan Video Berikut Ini: