COVID-19 Meningkat, Pasien di Jakarta dan Depok Sulit Cari RS Rujukan

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus COVID-19 yang telah dikonfirmasi positif di Indonesia saat ini mencapai 133 ribu pasien. Jumlah tersebut kian meningkat lantaran penambahan kasusnya masih cukup tinggi, yakni 1.942 per hari ini, Kamis 13 Agustus 2020.

Sementara itu, kasus COVID-19 yang sembuh tercatat sebanyak 87.558 orang. Sementara, kasus COVID-19 yang meninggal dunia bertambah 79 pasien dan totalnya kini 5.968 kematian.

DKI Jakarta masih menjadi daerah tertinggi di Tanah Air dengan total kasus konfirmasi 27.761 pasien dan 970 kematian. Sementara, Jawa Timur ada di peringkat kedua dengan 26.561 kasus konfìrmasi positif dan 1.953 kematian.

Baca juga: Terungkap, Fakta Oscar Lawalata Akui Pilih Jadi Feminin

Jumlah yang kian meningkat itu nampaknya tak diiringi oleh penambahan fasilitas kesehatan khusus COVID-19. Hal ini membuat para tenaga medis menjadi khawatir dan resah. Seperti yang diutarakan oleh Dekan FKUI sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. Ari F. Syam Sp.PD, dalam akun twitternya.

"Satu dua hari ini sudah susah cari tempat untuk pasien (gejala) berat COVID-19 di RS Rujukan di Jakarta-Depok," tulisnya seraya menyematkan tagar Wajib Protokol Kesehatan.

Senada, Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dr. Erlina Burhan, Sp.P., menegaskan bahwa di RS Persahabatan yang menjadi tempat rujukan pasien COVID-19, sudah terlalu padat lantaran jumlah ranjang tak lagi memadai. Hal ini membuat pihak RS harus menolak permintaan pasien yang ingin rawat inap.

Baca juga: 6 Trik Raih Orgasme, Suara Erotis Hingga Pijatan Sensual

"Antrian 50-70 kasus per hari, umumnya minta perawatan ICU, terpaksa ditolak," ujarnya dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penyakit menular ini memang 80 persennya tak membutuhkan perawatan rumah sakit. Namun, 20 persennya masih tetap membutuhkan penanganan alat kesehatan di rumah sakit.

"Bisa dibayangkan, jika kasus bertambah, dan fasilitas kesehatan tidak bertambah maka bisa overload," kata dia.
"Andaikan 150 ribu, jika 20 persennya perlu perawatan, RS nggak cukup," pungkas Erlina.