COVID-19 Naik Lagi, Sosiolog: Budaya Indonesia Senang Kumpul

Ichsan Suhendra, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Juru bicara Satgas COVID-19 Pemerintah, Profesor Wiku Adisasmito menyebut kasus COVID-19 meningkat. Padahal empat minggu yang lalu kasus sempat mengalami penurunan. Banyak faktor yang memengaruhi, termasuk kejenuhan di rumah sehingga rela melepas prokes demi bisa kumpul bersama orang terdekat.

Tercatat, kasus sembuh kumulatif sebesar 1.304.921 atau 88,7 persen. Namun, kasus positif kembali naik untuk pertama kalinya usai 4 pekan alami penurunan, dengan kenaikan sebesar 2,3 persen.

"Meskipun angkanya kecil namun tetaplah kenaikan kasus baru, yang seharusnya dapat kita jaga untuk selalu turun," ujar Prof. Wiku dalam konferensi pers virtual, Selasa sore, 23 Maret 2021.

Prof. Wiku menyebut, kejenuhan bisa menjadi faktor masyarakat ceroboh terhadap prokes. Hal itu sejalan dengan yang diungkap oleh Sosiolog Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmine. Ia mengatakan sulitnya menjaga jarak menjadi faktor utama masyarakat menjadi abai terhadap prokes.

"Jaga jarak fisik, ini yang paling sulit dan paling rendah sebenarnya, dari persentasi kepatuhannya," jelas Daisy, dalam bincang virtual bersama Frisian Flag bertajuk Refleksi Setahun Pandemi: Masyarakat Semakin Abai atau Peduli, baru-baru ini.

Menurutnya, jaga jarak ini berkaitan erat dengan momen berkerumun. Hal tersebut tentunya harus dihindari lantaran berisiko besar terhadap penularan COVID-19 yang menyebar melalui droplets, meski masih memakai masker.

"Budaya Indonesia itu senengnya kumpul-kumpul, kan kita punya filosofi yang Mangan ora makan yang penting kumpul, nah ini kita enggak boleh kumpul, makan enggak," kata Daisy.

Hobi berkumpul ini, kata Daisy, memang sudah mengalir erat di darah masyarakat Indonesia sehingga sangat sulit untuk menjaga jarak. Daisy menegaskan, protokol kesehatan selama pandemi tetap harus dijalankan, termasuk menjaga jarak, hingga virus SARS-CoV-2 benar-benar hilang.