COVID-19 Pengaruhi Sistem Pencernaan, Picu Mual dan Diare

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Wabah COVID-19 yang memicu sindrom pernapasan akut yang parah dan telah menyebar dengan cepat dari Tiongkok, mempengaruhi hampir 100.000 orang di 199 negara. Meskipun gejala khas COVID-19 termasuk demam, batuk, mialgia, kelelahan, dan pneumonia, sudah diketahui dengan baik, penelitian awal melaporkan insiden gejala gastrointestinal yang terjadi. Lantas, apa pemicu seseorang menderita masalah gastrointestinal yang disebabkan oleh COVID-19?

Hampir satu dari lima pasien COVID-19 dapat menunjukkan gejala gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare, menurut tinjauan penelitian. Gejala gastrointestinal (GI) yang terkait dengan COVID-19 sangat bervariasi, tetapi dapat mencakup kehilangan nafsu makan, mual, muntah, diare, dan nyeri perut yang menyeluruh.

Baca juga: Perparah Gejala COVID-19, Alasan Komorbid Tak Boleh Disepelekan

Sebuah studi, yang diterbitkan dalam jurnal Abdominal Radiology, menemukan bahwa 18 persen pasien mengalami gejala tersebut, sementara 16 persen kasus COVID-19 mungkin hanya muncul dengan gejala gastrointestinal.

“Ada semakin banyak literatur yang menunjukkan bahwa gejala perut adalah presentasi umum untuk COVID-19. Para peneliti memeriksa temuan dari 36 studi untuk mencapai kesimpulan mereka. Masalah termasuk diare, mual, muntah dan sakit perut semuanya telah dilaporkan pada beberapa pasien COVID-19," ujar Ahli radiologi Kanada, Mitch Wilson dari Universitas Alberta, dikutip dari Express UK.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di BMJ, kaitan COVID-19 dan saluran pencernaan diselidiki lebih lanjut. Penelitian tersebut mencatat, beberapa artikel melaporkan gejala GI, deteksi virus dalam tinja dan aspek patofisiologis potensial termasuk ekspresi reseptor virus di saluran GI.

“Yang masih kurang jelas adalah mengapa dan bagaimana SARS-CoV-2 menyebabkan gejala GI dan kedua apakah SARS-CoV-2 dapat ditularkan melalui saluran GI selain dari saluran pernapasan," tulis penelitian itu.

Pada sekitar 50 persen kasus COVID-19, adanya SARS-CoV-2 dalam sampel feses dan deteksi SARS-CoV-2 di mukosa usus pasien yang terinfeksi menunjukkan bahwa gejala enterik dapat disebabkan oleh invasi ACE2 yang menunjukan enterosit dan saluran GI mungkin merupakan jalur infeksi alternatif.

Pertanyaan dan tantangan yang belum terjawab tetap ada, seperti bagaimana virus dapat bertahan melewati pH ekstrim lingkungan sistem pencernaan. Kendati demikian, memiliki usus yang sehat merupakan indikator menjaga kekebalan tubuh terhadap penyakit menular seperti virus mematikan yang melanda di seluruh dunia.

Baca juga: Pasien COVID-19 Tanpa Gejala Kehilangan Antibodi Lebih Cepat

Untuk membantu menjaga keragaman mikrobioma yang baik di dalam usus, masyarakat disarankan untuk mengonsumsi makanan nabati berkualitas tinggi yang kaya serat dan sebisa mungkin menghindari konsumsi makanan olahan. Sertakan lebih banyak probiotik dalam makanan yang membantu perkembangan bakteri baik. Makan lebih banyak makanan seperti yogurt dan keju yang akan membantu kesehatan usus yang baik.