COVID-19 Picu Serangan Jantung, Ini Pencegahannya

Diza Liane Sahputri

VIVA – Sejak akhir Maret lalu, World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona baru (SARS CoV-2) sebagai pandemi global. Wabah COVID-19 ini telah menimbulkan berbagai dampak di bidang kesehatan baik fisik maupun psikis.

Di tengah kewaspadaan terhadap pandemi ini, beberapa bulan terakhir masyarakat juga dikejutkan dengan beberapa tokoh terkenal di Indonesia yang meninggal mendadak disebabkan oleh penyakit fatal lainnya seperti penyakit jantung. Kaitan antara COVID-19 dan pengidap penyakit jantung ternyata cukup erat, yang mana bisa memicu bahaya jika tidak dideteksi sejak dini.

"COVID-19 bisa cederai otot jantung yang disebut miokarditis (peradangan otot jantung). Bisa terjadi komplikasi lain ke jantung, bisa jadi serangan jantung," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, dikutip dari siaran pers, Rabu 20 Mei 2020.

Virus selain COVID-19, kata Paskah, juga bisa 'mampir' di jantung dan memicu bahaya seperti virus flu. Pada kasus COVID-19, komplikasi di jantung bisa dicegah dengan konsumsi obat jantung secara rutin.

"Jika terinfeksi COVID-19 dan ada penyakit jantung, langsung diberitahukan ke dokter agar obat yang rutin diminum untuk jantung, tidak dihentikan. Karena (jika dihentikan) bisa berisiko serangan jantung," tegasnya.

Selain itu, penilaian faktor risiko merupakan langkah yang penting untuk mendeteksi penyakit jantung pada tahapan awal sebelum berkomplikasi dan menimbulkan gejala. Mereka yang tergolong berisiko meliputi usia lanjut, wanita pasca-menopause, serta faktor keturunan di keluarga.

"Kondisi kegemukan, perokok, gangguan kolesterol dan penderita dengan penyakit kronik lain seperti stroke, diabetes melitus, hipertensi, dan gangguan ginjal juga menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan," kata dia.