COVID-19 RI Terkendali, Wiku: Ujian buat Kita agar Tak Terjadi Lonjakan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan COVID-19 di Indonesia menghasilkan kabar menggembirakan. Per 20 September 2021, kasus konfirmasi positif COVID-19 di bawah 2.000 dan kasus aktif kurang dari 60.000.

Kasus harian nasional juga turun hingga 98 persen dari titik puncaknya pada 15 Juli 2021. Berdasarkan data yang dihimpun, saat ini tidak ada lagi kabupaten/kota yang berada pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa-Bali, seluruh daerah berada di Level 3 dan 2.

Koordinator Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menegaskan, Indonesia terus berupaya supaya kasus COVID-19 terkendali. Kerja sama seluruh elemen, dari pemerintah hingga masyarakat tetap dibutuhkan.

"Ini ujian buat kita ke depan, bisa atau enggak agar tidak terjadi lonjakan lagi. Seperti sekarang ini, kita sudah rendah (kasus COVID-19)," tegas Wiku saat dialog Wealth Class - Anticipating COVID-19 Variants baru-baru ini.

"Kalau kita bisa menjaga seperti ini terus, lewati Nataru (Natal dan Tahun Baru) sampai dengan akhir Januari 2022 saja, itu sudah suatu kehebatan. Mari buktikan, kalau kita bisa seperti itu."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Cegah Penularan Virus Corona dari Daerah Padat Penduduk

Warga bersepeda di sepanjang Kawasan MH Thamrin,Jakarta, Jumat (30/10/2020). Aktivitas memilih berolahraga sepeda sebagai alternatif liburan panjang sekaligus menjaga imunitas tubuh di tengah pandemi virus Corona. (merdeka.com/Imam Buhori)
Warga bersepeda di sepanjang Kawasan MH Thamrin,Jakarta, Jumat (30/10/2020). Aktivitas memilih berolahraga sepeda sebagai alternatif liburan panjang sekaligus menjaga imunitas tubuh di tengah pandemi virus Corona. (merdeka.com/Imam Buhori)

Wiku Adisasmito menambahkan, masyarakat perlu mengetahui bahwa virus Corona mudah menular apabila terjadi kontak-kontak karena berdekatan dan kepadatan populasi. Kepadatan populasi biasanya ada di kota-kota besar juga di pulau-pulau yang memang aktif kondisi sosial-ekonomi.

"Tidak berarti bahwa secara sosial ekonomi yang rendah di daerah-daerah remote (terpencil, pedalaman), potensi penularan tidak ada. Ya, ada juga cuma potensial lebih rendah," tambahnya.

"Kita juga memastikan, mengendalikan COVID-19 agar jangan sampai penularan dari tempat yang padat penduduk ke daerah yang sedikit penduduknya atau lebih remote."

Kebijakan Pemerintah mengendalikan COVID-19 terkait mobilitas, yakni pelaku perjalanan dalam negeri diskrining supaya tidak terjadi potensi pertukaran virus dari satu tempat ke tempat yang lain.

"Tentunya, dengan adanya program vaksinasi yang juga sudah mulai meningkat di berbagai daerah, terutama yang padat penduduk bertujuan mengurangi risiko terjadinya penularan antar daerah atau suatu komunitas tertentu," pungkas Wiku yang juga Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19.

Infografis Berisiko Penularan Covid-19, Hindari 3 Kondisi Tempat Ini

Infografis Berisiko Penularan Covid-19, Hindari 3 Kondisi Tempat Ini. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Berisiko Penularan Covid-19, Hindari 3 Kondisi Tempat Ini. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel