Covid-19: Saat para eksekutif lab menjual saham senilai jutaan, muncul pertanyaan

·Bacaan 3 menit

New York (AFP) - Pfizer, Moderna, Novavax: para eksekutif beberapa laboratorium Amerika yang mengembangkan vaksin Covid-19 baru-baru ini mengantongi jutaan dolar dengan menjual saham di perusahaan-perusahaan mereka sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan langkah tersebut di tengah krisis kesehatan nasional.

Pada hari ketika raksasa farmasi Pfizer mengumumkan data awal yang menunjukkan vaksinnya 90 persen efektif melawan virus corona, kepala eksekutifnya Albert Bourla menjual saham senilai 5,6 juta dolar AS.

Tidak ada yang ilegal tentang hal ini, kata Pfizer: penjualan dilakukan sesuai dengan aturan yang memungkinkan kepala perusahaan menjual saham di bawah kriteria yang telah ditentukan, pada tanggal atau harga yang ditetapkan sebelumnya, untuk menghindari kecurigaan akan adanya insider trading atau perdagangan orang dalam.

Di bawah aturan yang sama, beberapa pejabat Moderna telah menjual saham senilai lebih dari 100 juta dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.

Perusahaan tersebut belum menempatkan satu produk pun di pasar sejak dibentuk pada 2010, tetapi pemerintah federal telah berkomitmen membayarnya hingga 2,5 miliar dolar AS jika vaksinnya terbukti efektif.

Saham Moderna melonjak dari 19 dolar AS pada awal tahun ke level 90 dolar AS saat ini.

Bos Novavax, pada bagiannya, menjual 4,2 juta dolar AS sahamnya pada 18 Agustus, lebih dari sebulan setelah pengumuman akan menerima pembiayaan publik sebesar 1,6 miliar dolar AS.

Accountable US, kelompok advokasi pembayar pajak nonpartisan, telah menghitung bahwa dari awal upaya terkoordinasi federal untuk mengembangkan vaksin pada 15 Mei hingga 31 Agustus, para pejabat di lima perusahaan farmasi tersebut menghasilkan lebih dari 145 juta dolar AS dengan menjual saham.

Para eksekutif di Pfizer dan Moderna beroperasi di bawah aturan yang diberlakukan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) pada 2000 untuk mengizinkan karyawan perusahaan menjual saham tanpa menghadapi tuduhan perdagangan orang dalam.

Ini memungkinkan mereka membuat rencana yang menentukan perdagangan saham mereka pada harga, jumlah atau tanggal yang ditentukan sebelumnya, tetapi hanya jika mereka tidak memiliki informasi istimewa yang dapat mempengaruhi harga saham.

Setelah penjualan seperti itu direncanakan, penjualan tersebut tidak dapat diubah pada saat-saat terakhir, bahkan jika waktunya dapat menimbulkan pertanyaan.

Namun, penggunaan aturan oleh Pfizer dan Moderna ini tampaknya "dipertanyakan secara hukum," kata Daniel Taylor, profesor sekolah bisnis Wharton University of Pennsylvania yang mempelajari perusahaan-perusahaan farmasi besar sejak awal pandemi.

"Pertanyaannya adalah, apa yang diketahui para eksekutif pada saat mereka menjadwalkan perdagangan sebelumnya?" tanya dia.

Bourla, menurut Pfizer, baru saja mengesahkan kembali pada 19 Agustus rencana penjualan saham yang semula disahkan pada Februari, "dengan persyaratan harga dan volume yang sama."

Tetapi sehari setelah itu, perusahaan ini mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan hasil awal uji klinisnya sebagai "positif."

Tentu saja tidak hanya normal tetapi diinginkan bahwa kepala laboratorium harus didorong untuk mengembangkan vaksin yang aman dan andal secepat mungkin, kata Taylor.

Tapi "ketika mereka akan menjual sahamnya, mereka harus memastikan bahwa mereka beroperasi dengan situasi di mana setiap orang memiliki kesempatan yang adil dan setara, bahwa mereka tidak memanfaatkan investor lain dengan memiliki lebih banyak informasi," kata dia.

Taylor menambahkan kata peringatan: "Saya tidak berpikir bahwa perusahaan-perusahaan telah menginternalisasi risiko reputasi untuk perdagangan ini" dengan menjual saham bahkan ketika kasus Covid-19 telah meningkat di seluruh dunia.

Ketika seorang eksekutif puncak perlu menjual saham untuk membayar kapal pesiar, rumah baru, atau pendidikan anak-anaknya, publik jarang menyadarinya. Tetapi dengan pandemi yang berkecamuk, laboratorium berada di bawah pengawasan ketat.

Bagi Sanjai Bhagat, profesor pada University of Colorado-Boulder yang berspesialisasi dalam tata kelola perusahaan, eksekutif puncak seharusnya tidak diizinkan untuk menjual saham perusahaan sampai satu atau dua tahun setelah mereka meninggalkan perusahaan.

“Jika mereka memiliki banyak vested stock dan stock options, maka mereka mendapat insentif untuk mendapatkan harga saham setinggi-tingginya, bahkan dengan tidak jujur sepenuhnya kepada investor,” kata dia.

Bhagat percaya dewan perusahaan harus menghilangkan kemungkinan godaan.

"Tidak melakukan sesuatu yang ilegal bukanlah standar penilaian mereka," kata dia. "Terutama pada saat-saat seperti ini, orang mengharapkan mereka untuk bertindak secara bertanggung jawab."

Saat dihubungi oleh AFP, SEC tidak mau mengatakan apakah mereka sedang menyelidiki salah satu eksekutif lab.

Tetapi dalam sebuah wawancara pada Mei di jaringan CNBC, ketua SEC Jay Clayton mendesak para eksekutif agar menghormati kode etik.

"Mengapa Anda bahkan ingin mengajukan pertanyaan bahwa Anda melakukan sesuatu yang tidak pantas?" tanya dia.