COVID-19 Terbukti Menular di Udara, Pakar: Ada Faktor Ventilasi

·Bacaan 1 menit

VIVA – Kekhawatiran akan tertular COVID-19 mungkin menyelimuti para pekerja yang hingga kini masih harus beraktivitas di luar rumah. Terlebih, sejumlah penelitian sudah mulai menemukan bukti penularan COVID-19 varian baru melalui udara.

Pakar kesehatan, Dr. dr. Shirley Ivonne Moningkey MKes, dalam acara Hidup Sehat di tvOne, menyebut bahwa para peneliti mulai menemukan faktor penularan COVID-19 di udara. Terdapat 10 faktor yang ditemukan berkaitan antara keduanya, salah satu yang perlu diperhatikan adalah adanya penularan dalam ruangan.

"Penularan dalam ruangan jauh lebih banyak, dibandingkan penularan luar ruangan. Artinya ada faktor ventilasi. Ini salah satu hal yang mendukung penularan lewat udara," ujar dokter Shirley.

Saat seseorang batuk, bersin ataupun bernapas cukup kuat, virus SARS-CoV-2 bisa keluar dari tubuh. Saat itu, virus dapat bertahan hingga 30 menit di udara di sekitarnya.

"Saat ada orang lain yang juga menghirup udara yang sama, apalagi bagi yang rentan, belum divaksin, berarti virus bisa masuk (menginfeksi)," tuturnya.

Terlebih, varian delta atau B.1617.2 bersifat lebih menular yang terbukti dari ledakan kasus COVID-19 di India. Terkini di Indonesia pun mengalami hal serupa dengan jumlah kasus yang meningkat tajam.

"Suara sirine ambulans sering didengar, antrean pemakaman, artinya yang terinfeksi dan meninggal juga banyak," kata Shirley.

Tak hanya itu, penerbangan dari dan keluar Indonesia juga sudah ditutup lantaran jumlah kasus COVID-19 berada di peringkat ketiga terbanyak.

Untuk itu, Shirley mengimbau masyarakat bisa patuh dengan protokol kesehatan dengan rajin mencuci tangan, memakai masker double, dan menghindari kerumunan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel