COVID Masih Tinggi di RI, Banyak Warga Australia Ingin Cepat Pulang

·Bacaan 5 menit

Ketika pandemi COVID mulai terjadi di Bali tahun lalu, Charlie Knoles dan keluarganya tidak bisa begitu saja meninggalkan Pulau Dewata, meski sudah ada peringatan dari Pemerintah Australia.

Dia dan istrinya, Liddy Arens, termasuk orang-orang pertama yang tertular COVID-19 di Bali, sehingga saat itu mereka tak bisa leluasa melakukan perjalanan udara.

Apalagi situasi di Bali di awal pandemi bisa dikatakan lebih stabil dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.

Selama lebih dari setahun, Pulau Bali berhasil menghindari tingginya tingkat penularan COVID, tidak seperti di ibu kota Jakarta dan Pulau Jawa.

Namun varian Delta yang sudah menular ke hampir seluruh pelosok Indonesia saat ini membuat Charlie merasa kewalahan untuk melindungi ketiga anak mereka dari infeksi.

Apalagi, salah satu anak mereka menderita asma.

Keluarga Knoles bersiap-siap meninggalkan kehidupan di Bali yang telah mereka jalani selama lima tahun, meninggalkan pekerjaan dan sekolah anak-anaknya, agar bisa kembali ke Australia.

Anak tertua mereka bahkan telah dikirim ke Amerika Serikat, tempat yang dirasanya lebih aman.

"Kami sangat khawatir karena putra kami cukup peka," ujar Liddy kepada ABC.

"Akan sangat berat bagi kekebalan tubuhnya bila dia terjangkit varian Delta," katanya.

Namun seperti ribuan orang Australia lainnya yang tinggal dan bekerja di Indonesia, Charlie dan keluarganya berada dalam kondisi tertahan, tak dapat pulang begitu saja ke Australia.

Bayar ribuan dolar untuk penerbangan pribadi

Maskapai penerbangan nasional Garuda sudah menghentikan sebagian besar penerbangannya ke Australia.

Sementara Singapura dan banyak negara lain kini melarang siapa pun yang datang atau pernah transit di Indonesia.

"Tidak ada penerbangan yang tersedia. Kita sama sekali tidak bisa membeli tiket," kata Chalie.

"Ada teman kami yang berusaha menyewa pesawat pribadi hanya untuk orang Australia pulang. Tapi harganya semakin mahal," ujarnya.

Penerbangan komersial ke Australia yang nyaris sudah tidak ada, mendorong sejumlah ekspatriat Australia untuk patungan menyewa penerbangan charter dari Bali ke Perth.

Sekitar 100 warga Australia telah mendaftarkan diri.

Namun karena kebijakan pemerintah Australia yang membatasi jumlah kedatangan dari luar negeri membuat hanya 25 orang yang bisa naik pesawat Indojet 737.

Kemarin, pesawat sewaan yang dijadwalkan untuk pertengahan Agustus telah dibatalkan.

"Harganya telah mencapai $AS7.000 [lebih dari Rp70 juta] per orang. Untuk kami yang lima orang, kami tak mampu membayar $AS35.000 [lebih dari Rp350 juta] untuk penerbangan sekali jalan dari Bali ke Perth," kata Charlie.

Situasi di Bali semakin kewalahan

Angka penularan virus corona di Bali melonjak ke rekor baru bulan Juli ini, setelah terjadi lebih dari 1.000 kasus baru setiap hari.

Dalam beberapa hari terakhir sudah tercatat lebih dari 30 kematian.

ABC mendapatkan informasi jika sudah belasan orang Australia yang tinggal di Bali telah tertular COVID-19 sejak awal pandemi.

Pejabat di Bali juga mengonfirmasi setidaknya dua dari warga Australia meninggal karena COVID.

Seorang perempuan, yang minta namanya hanya disebut Chrissy, termasuk di antara beberapa warga Australia yang dirawat di rumah sakit karena bergejala parah.

Selama enam hari ia bernafas dibantu ventilator, setelah jatuh sakit bulan Juni kemarin.

Suaminya bekerja di negara lain, sehingga kedua anaknya yang masih kecil berada dalam perawatan orang lain.

Putra mereka yang berusia lima tahun dites positif, dua hari setelah Chrissy masuk ke rumah sakit.

"Saya ketakutan. Saya tidak pernah merasakan sakit seperti ini dalam hidupku," katanya.

"Ini jadi mimpi terburuk yang jadi kenyataan."

"Ketakutan terbesar saya karena tidak mengetahui kondisi anak-anakku. Tak bisa melihat dan merawatnya," ujarnya.

Warga Australia minta bantuan Pemerintah Australia

Banyak warga Australia di Indonesia yang menyampaikan kemarahan mereka karena Pemerintah Federal Australia tidak turun tangan membantu mereka dengan mengirimkan penerbangan repatriasi ke Indonesia.

Awal tahun ini, ratusan warga Australia yang terjebak di India dibantu dengan penerbangan seperti itu ketika penularan varian Delta tak terkendali di sana.

“Sangat memprihatinkan tinggal di sini,” ujar Jack Brazel, yang pindah ke Jakarta pada 2018 sebagai manajer penjualan di sektor pendidikan.

"Akses vaksin bagi orang asing di Indonesia kurang karena mereka jelas memprioritaskan rakyatnya terlebih dahulu," ujarnya.

"Jepang telah memulangkan semua ekspatriatnya. Kenapa lama sekali bagi Australia untuk bertindak," tanya Jack.

Dia mengaku telah menghubungi kedutaan Australia di Jakarta meminta bantuan untuk kembali ke negaranya.

Tapi pihak Kedubes Australia, menurutnya, malah menawarkan nomor telepon agen perjalanan lokal.

“Jika kapasitas Kedubes hanya seperti ini, kita harus mempertanyakan seberapa berharga layanan konsuler ke warga Australia (luar negeri),” katanya.

Warga Australia lainnya, Stephanie Fotheringham, yang pindah ke Jakarta pada 2019, mempertanyakan mengapa Pemerintah Australia tidak menyediakan vaksin untuk ekspatriat Australia, yang tidak memenuhi syarat untuk suntikan di Indonesia.

Dia percaya jika bisa disediakan, maka dapat mengurangi risiko bagi masyarakat Australia, saat mereka pulang nantinya.

"Seluruh staf kedutaan mendapatkan AstraZeneca, namun bagi orang Australia yang bukan bagian dari kedutaan, rasanya celaka saja," ujarnya.

Warga Australia lainnya menunjuk ke negara-negara seperti Prancis yang telah memberikan vaksinasi kepada warganya di Indonesia.

"Tidak ada bantuan untuk bisa divaksin di sini agar kami terlindungi, selain jika kami bisa pulang (ke Australia)," kata Jack Brazel.

"Pukulan bagi warga Australia karena mereka menyumbangkan 2,5 juta vaksin (ke Indonesia), tapi pemerintah tidak dapat menegosiasikan apa pun bagi warga Australia yang tertahan di sini," ujarnya.

Indonesia jadi episentrum baru

Dengan total 3,2 juta infeksi dan hampir 87.000 kematian, Indonesia kini berupaya keras untuk memvaksinasi penduduknya.

Hampir tujuh persen dari 270 juta populasi telah mendapatkan dosis penuh, namun jumlah ini masih jauh dari 181 juta yang dibutuhkan.

Departemen Luar Negeri Australia (DFAT) mengatakan program vaksinasi COVID-19 Australia tidak mencakup warga negara Australia di luar negeri.

"Kami mendorong warga Australia di luar negeri untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan setempat tentang pilihan vaksin, termasuk bantuan yang mungkin tersedia secara lokal," kata DFAT dalam sebuah pernyataan.

DFAT mengatakan pihaknya sekarang sedang mencari cara untuk membantu warga Australia yang terdaftar di Indonesia yang pulang.

"Pemerintah memfasilitasi 153 penerbangan di mana lebih dari 22.900 warga Australia telah pulang," kata DFAT.

"Kami telah memberikan berbagai jenis bantuan kepada lebih banyak warga Australia, termasuk untuk pulang melalui fasilitas komersial," tambahnya.

Lebih dari 640.000 warga Australia dari seluruh dunia telah pulang rumah sejak Maret tahun lalu.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel