COVID Meningkat, Hotel di Malang Ini Berubah Fungsi Jadi Tempat Isoman

·Bacaan 3 menit

VIVA – El Hotel Grande Malang berubah fungsi menjadi ISOTEL atau Hotel untuk Isolasi Mandiri bagi penderita COVID-19 sejak tanggal 19 Juli 2021. Pendiri El Group, Enggartiasto Lukita mengatakan, perubahan ini adalah buah kerjasama antara éL Hotel Grande dengan Persada Hospital yang dilakukan guna memenuhi kebutuhan masyarakat Malang Raya akan fasilitas isolasi mandiri (isoman) secara aman, sehat dan terkontrol di bawah pengawasan tenaga medis, maupun layanan pendukung lainnya guna pengamanan terhadap penularan di lingkungan keluarga serumah dan/atau kerabat dekatnya.

"Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia belakangan ini meningkat luar biasa. Begitu juga tingkat kematian, walau tingkat penyembuhan pun bertambah. Seluruh fasilitas kesehatan, terutama di Pulau Jawa, kewalahan bahkan nyaris lumpuh kekurangan ruang perawatan berikut fasilitas pendukungnya," kata Enggar sapaan Enggartiasto dalam keterangan tertulisnya, Senin, 25 Juli 2021.

Di sebagian daerah di Pulau Jawa, kata Enggar, rumah sakit terpaksa menambah ruang rawatnya dengan mendirikan tenda-tenda darurat di halaman parkir. Tenaga kesehatan semakin kelelahan dan akibatnya masyarakat yang terpapar COVID-19 menjadi kurang terlayani dengan cepat dan tepat.

Dampak lainnya adalah pasien dengan keluhan penyakit non COVID-19 tidak dapat dilayani lagi dengan maksimal di rumah sakit. Bahkan tidak jarang, pasien umum yang membutuhkan rawat inap terpaksa ditolak karena kapasitas tempat tidur yang ada, digunakan seluruhnya untuk penderita COVID–19.

"Presiden RI Joko Widodo berulang kali menyatakan bahwa diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI/Polri serta kalangan pengusaha maupun masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi pandemi COVID–19 ini dengan cara yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing," ucapnya.

Ia menuturkan, masyarakat harus menyadari bahwa pandemi COVID19 memang nyata, dan karenanya protokol kesehatan wajib dilaksanakan dengan ketat. Harus ada kebersamaan yang solid, ikhtiar yang sungguh-sungguh serta pengorbanan dari seluruh elemen masyarakat untuk mengatasinya.

Problem utama dari penderita COVID-19 selama masa isolasi adalah perlunya rasa aman dan kepercayaan bahwa penderita berada di tempat isolasi mandiri yang tepat.

"Mereka harus merasa yakin telah berada di tempat dimana perkembangan kondisi kesehatan penderita dipantau ketat dari waktu ke waktu terutama apabila orang tersebut termasuk dalam kategori penderita dengan komorbid, serta ditangani oleh tenaga medis mumpuni. Ada tenaga medis yang siaga sepanjang waktu yang dibutuhkan. Termasuk apabila penderita membutuhkan layanan konsultasi medis yang berada di bawah naungan rumah sakit," katanya.

Mantan Menteri Perdagangan ini menyebut tingginya kasus penularan COVID-19 telah menyebabkan kurangnya kapasitas tempat isolasi mandiri yang disediakan pemerintah.

Di tengah padat dan tingginya tingkat hunian rumah sakit atau fasilitas isolasi mandiri yang disediakan pemerintah tersebut, maka tentu diperlukan partisipasi seluruh elemen masyarakat, terutama kalangan pengusaha swasta untuk berperan serta membantu pemerintah menyediakan fasilitas isolasi mandiri khususnya bagi penderita COVID-19 bergejala ringan, terutama di wilayah dengan tingkat penyebaran yang tinggi.

"Dengan demikian hanya penderita COVID-19 dengan kondisi yang sangat berat saja, yang dirawat di rumah sakit. Penderita COVID-19 dengan gejala ringan sebaiknya diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri," ujarnya.

Di lain pihak, apabila fasilitas isolasi mandiri tersedia sesuai kebutuhan, maka rumah sakit tetap dapat berfungsi dengan baik untuk memberikan pelayanan profesional bagi pasien non COVID-19 yang memerlukan rawat inap, yang jumlahnya juga tidak sedikit, dapat terlaksana dengan baik.

Menyikapi dan menyambut arahan presiden untuk menyiapkan tempat-tempat isolasi mandiri bagi penderita COVID-19 bergejala ringan, ia pun memutuskan untuk mengalihfungsikan salah satu dari 6 hotel miliknya yaitu éL Hotel Grande Malang yang memiliki 103 kamar, sepenuhnya menjadi Isotel-Isolasi Hotel, bekerja sama dengan Persada Hospital.

"Dengan demikian penderita COVID–19 dapat melakukan isolasi di tempat yang tepat dan aman ditinjau dari berbagai aspek. Terjamin kebutuhan sehari-harinya dan secara psikologis, akan merasa aman karena kondisi kesehatannya berada di bawah pantauan rumah sakit," katanya.

Menurutnya, perubahan fungsi hotel ini sebagai salah satu bentuk partisipasi dan kerjasama yang baik antara elemen masyarakat khususnya di kalangan pengusaha nasional, guna membantu pemerintah dalam upaya mengatasi keterbatasan fasilitas isolasi mandiri bagi penderita COVID-19 bergejala ringan, sekaligus membantu Rumah Sakit agar bisa tetap berkonsentrasi pada fungsi sosialnya dalam menolong pasien rawat inap dalam kategori “gawat” baik pasien yang disebabkan oleh virus COVID-19 maupun pasien umum yang memiliki penyakit kronis dan membutuhkan fasilitas rawat inap.

Baca juga: Vaksinasi Terhambat, Kota Malang Keluhkan Distribusi Pusat yang Lambat

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel