Creative Director Team Liquid: Dota2 terlalu sulit untuk dipahami pemain LoL

Verdi Hendrawan
·Bacaan 2 menit

MOBA selalu dikenal sebagai salah satu game paling rumit di esports. Tidak hanya membutuhkan waktu yang lama hanya untuk mempelajari dan memahami dasar-dasarnya, tetapi juga harus disertai dengan keterampilan dan pengetahuan MOBA pada umumnya. Hal ini membuat setiap pemain membutuhkan banyak latihan dan dedikasi untuk bisa menjadi pemain profesional.

Di scene kompetitif esports dunia, ada dua judul game MOBA yang begitu populer, yaitu Defense of the Ancients (Dota2) dari Valve dan League of Legends garapan Riot Games.

Kedua game tersebut memiliki jumlah pemain yang sangat besar dengan turnamen reguler serta prizepool sangat besar yang diselenggarakan di seluruh dunia. Penggemar dari kedua game ini juga telah lama berdebat tentang permainan mana yang lebih unggul.

Perdebatan ini tentu tidak akan ada habisnya untuk dilakukan. Sempat ada adu mulut dan argumen dari dua pemain Dota2 dari tim OG Esports, N0tail dan Ceb, dengan pemain League of Legends dari Team Liquid, Doublelift, mengenai hal ini.

Kini giliran Creative Director Team Liquid, Damian Estrada, kembali memanaskan perdebatan ini dengan mengungkapkan beberapa pemikiran dirinya tentang Dota2 dan League of Legends. Hal ini cukup menimbulkan kontroversi, mengingat Team Liquid memiliki divisi yang terbilang besar di dua game tersebut.

“Dota2 adalah game yang jauh lebih banyak mendatangkan manfaat, tetapi terlalu sulit untuk dipahami sepenuhnya oleh 80 persen pemain League of Legends,” tulis Damian melalui akun Twitter-nya.

Dota2 memang merupakan game yang sangat kompleks dan membutuhkan kombinasi dari keterampilan mekanik intens dengan pemikiran kritis untuk menguasai permainan. Namun, dengan tingginya tuntutan keterampilan untuk memainkan game ini juga telah banyak membuat banyak pemain menjauh dari permainan ini dan mencoba peruntungan di game lain.

Hal ini juga yang sempat diakui oleh beberapa pro player MOBA di Indonesia yang kini bersinar di Mobile Legends. Yurino “Donkey” Putra misalnya, pada sebuah kesempatan ia sempat mengaku “otak gw gak nyampe untuk main Dota2.”

Di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa League of Legends dapat bersaing dengan Dota2 di scene esports dunia berkat banyak kesederhanaan yang diterapkan Riot Games hingga membuat game ini sangat menyenangkan bagi para gamer kasual dan kompetitif.

BACA JUGA: 3 hero Dota 2 penghancur Spectre