CSIS: G20 RI beri dampak investasi yang jadi kunci pertumbuhan ekonomi

Ketua Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Hirawan mengatakan perhelatan Presidensi G20 Indonesia telah memberikan dampak besar yakni terciptanya berbagai investasi yang merupakan kunci pertumbuhan ekonomi.

“Dampak penyelenggaraan KTT G20 telah menghasilkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan bagi Indonesia. Kami turut mengapresiasi,” katanya dalam Doku Talk bertajuk Efek Ekonomi G20 di Indonesia: Melihat Opportunity Investasi di Jakarta, Kamis.

Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia ini mengatakan pertemuan G20 memberikan penguatan dalam melakukan sinergi dan kerja sama pada berbagai negara untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang dinilai semakin beragam.

Terlebih lagi, pertemuan G20 juga berhasil menciptakan stabilitas di kawasan atau di dunia secara umum yang kemudian berpengaruh pada stabilitas ekonomi di masing-masing negara.

Baca juga: SKK Migas bidik kenaikan investasi 20 persen pada 2023

Kesepakatan seperti Pandemic Fund meskipun nilainya belum terlalu besar yakni sekitar 1,5 miliar dolar AS dengan kontribusi Indonesia sebesar 50 juta dolar AS merupakan starting point yang bagus.

“Indonesia berhasil dalam konteks menggaungkan pentingnya kerja sama ekonomi di dunia internasional,” ujar Fajar.

Sementara itu, Praktisi Keuangan dan Investasi Benny Sufami menganalisa bahwa tantangan ekonomi pada 2023 selain menimbulkan tekanan juga akan menghasilkan peluang ekonomi.

Peluang ini salah satunya tercipta dari akan adanya pemilu pada 2024 sehingga menjadi tenaga baru untuk bursa saham bisa kembali mengalami kenaikan.

“Kalau kita cerna dengan baik ini adalah waktu yang baik untuk investasi dengan melihat profil risiko masing-masing,” kata Benny.

Baca juga: Sandiaga: Presidensi G20 tampilkan sisi terbaik alam dan SDM Indonesia

Apalagi berdasarkan data di lapangan ternyata para investor ritel sangat menyambut positif perhelatan G20 karena mendorong terciptanya banyak investasi terutama bagi Indonesia.

Menurut Benny, jika sepanjang 2019-2022 merupakan momentum gelap untuk kegiatan investasi akibat pandemi COVID-19 maka saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengalokasikan investasi.

Oleh sebab itu, ia menuturkan ekonomi pada 2023 justru bisa menguntungkan para investor lokal bila disikapi dengan bijak yakni melakukan penjajakan terlebih dahulu dengan melakukan investasi yang disiplin, bertahap dan memahami risiko dan opportunity-nya.

Untuk meminimalisir kerugian, Benny menegaskan para investor perlu memahami literasi keuangan dengan baik karena sudah menjadi dasar yang harus dilakukan.

Literasi keuangan ini salah satunya dengan mengetahui dan memahami profil diri sendiri serta mengenali antara kebutuhan dan keinginan sehingga investor dapat melakukan evaluasi keuangan.

“Tentunya untuk mencegah investasi ilegal kita harus terapkan 2L yaitu Legal dan Logic demi menghindari kerugian yang besar,” tegasnya.