Cuaca Buruk, Pasokan Batu Bara ke PLTU Menipis

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menegaskan, stok batu bara nasional tercukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Namun, kondisi cuaca yang sedang ekstrim diakui memperlambat rantai pasok batu bara dari lokasi penambangan ke pembangkit listrik.

"Setiap titik yang mempengaruhi supply chain batu bara menjadi fokus kita, terlebih pada kondisi cuaca yang agak ekstrim seperti tahun ini. Bukannya mau menyalahkan, tapi ke depannya, kita ingin mengantisipasi hal ini," ujar Rida dalam konferensi pers daring, Rabu (27/1/2021).

Rida menjelaskan, operasional pengerukan batu bara memang terhambat karena adanya banjir di sejumlah lokasi penambangan. Saat banjir meluap, maka aktivitas pengerukan mustahil dilakukan.

"Kalaupun berhasil digali, karena banjir truk pengangkutnya tidak bisa melalui jalan sehingga tidak bisa loading sehingga memperlambat waktu pemuatan," jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, di kondisi ekstrim, hujan biasanya disertai dengan angin kencang, dan hal tersebut biasanya lebih berdampak di ruang kelautan. Karena cuaca yang tidak memungkinkan, izin berlayar dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan tidak diterbitkan sehingga membuat pemasokan menjadi lebih lama.

Di sisi lain, PLTU terus bekerja tanpa henti untuk menyediakan listrik. Kendati tidak ada pasokan baru, PLTU akan menggunakan stok yang ada sehingga lama kelamaan tergerus.

"Jadi dari hulu kebanjiran, sampai ke titik pembangkit, itu berdampak ke stok," ujarnya.

Rida melanjutkan, pada bulan Oktober 2020 lalu, pemerintah sudah mengingatkan kepada PLN dan pembangkit swasta untuk mengamankan supply chain.

"Tapi mereka kurang antisipasi kalau cuacanya seaktif sekarang," ujarnya.

Terus Naik, Kebutuhan Batu Bara Nasional Diproyeksi Capai 277 Juta Ton pada 2040

Aktivitas pekerja menggunakan alat berat saat menurunkan muatan batu bara di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas pekerja menggunakan alat berat saat menurunkan muatan batu bara di Pelabuhan KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan proyeksi kebutuhan batu bara dalam negeri yang terus meningkat dalam kurun waktu 2020 hingga 2040.

Pada 2021, kebutuhan batu bara diprediksi mencapai 172 juta ton. Puncaknya, Indonesia membutuhkan sekitar 277 juta ton pada tahun 2040.

"Proyeksi kebutuhan batu bara akan terus meningkat, dan pada tahun 2040 akan mencapai 277 juta ton," jelas Arifin dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin (23/11/2020).

Untuk tahun ini, Indonesia membutuhkan 155 juta ton batu bara yang 70 persen dialokasikan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) atau sebanyak 109 juta ton.

Kemudian, 11 persennya dialokasikan untuk pengolahan dan pemurnian sebesar 16,52 juta ton, 10 persen untuk semen (14,54 juta ton), masing-masing 4 persen untuk tekstil dan kertas (6,54 juta ton) dan 1 persen atau 1,73 juta ton untuk pupuk.

Adapun, produksi batu bara nasional ditargetkan mencapai 550 juta ton pada tahun 2020. Per Oktober 2020, realisasinya mencapai 459 juta ton, atau sekitar 83 persen dari target.

Kemudian, realisasi ekspor tercatat mencapai 327 juta ton dengan nilai USD 13,38 miliar. Untuk pemenuhan batu bara dalam negeri, progressnya mencapai 109 juta ton atau sekitar 70 persen dari target.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: